Dangerous
angels
Title : Dangerous angels
Author : Mrs. Me
Cast :
Ø Sana twice as lee
hani
Ø Momo twice as yoon hye ri
Ø Tzuyu twice as go
baek hee
Ø Nayeon twice as
im nayeon
Ø All member bts
Ø Shownu monsta x
as ahn shownu
Ø All member
gfriend
Genre : school life, romance, action
Note : Hay reader..! sorry ya di part 1 gk da notenya jadi aku kasih disini aja. sebenarnya ini ff pertama aku, atau kedua? mungkin aja. buat info aja sebenarnya ff ini terinspirasi dari film favorite aku judulnya Charle's Angel, supaya kalian lebih mengerti aja tentang ni ff gaje. Warning, typo bertebaran. Okay, happy reading..!!
# PART 2
.
“Kring.. Kring… Kringgg” Suara bel sekolah mulai
terdengar menandakan pelajaran jam pertama sudah dimulai. Koridor sekolah sepi,
lapangan sepi, dan kantin pun juga sepi. Seluruh murid sudah berada dikelasnya
masing-masing sedang mengikuti alur pelajaran dengan suasana yang sunyi dan
sangat tenang. Tapi, sayangnya hal itu tidak bertahan lama.
“Dug Dug Dug! Tes.! Tes! Tes.!” Suara speaker
sekolah berhasil membuat para guru dan murid menghentikan kegiatannya . Mereka
mulai terfokus pada suara di speaker sekolah.
“Anyyeong.! Hello Guys.!! Jungkook here.!” Mendengar
nama Jungkook seluruh yeoja di sekolah ini langsung menjerit histeris, bahkan
anak Gfriend dan BTS pun ikut terkejut. Suasana sekolah menjadi seperti sedang
terjadi gempa bumi dalam sejenak.
“Yak. Apa
yang bocah gila itu lakukan?” Ucap Yoongi kepada Jin, Namjoon, dan Hoseok yang
sedang berada dalam satu kelas. Mereka hanya mengangkat bahunya mengisaratkan
tidak tau.
Sedangkan dilapangan basket, dua orang namja gila
yang sedang bolos ikut berteriak juga.
“Yeeeyyy!!! Jungkoookk!! Chinguku..!!” yah, siapa
lagi kalau bukan taehyung dan jimin. Para fansnya yang melihat mereka bermain
basket ikut menyerukan nama jungkook juga.
“Morning Everyone! Okay, kalian pasti sudah
mengenalku’kan? Ya, aku adalah seorang namja tampan yang pintar dan lucu dari
kelas 2-3. Jeon-Jung-kook.! Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku melakukan
ini ya’kan?” Jungkook mengatakannya bak seorang penyiar radio remaja. Para
yeoja semakin histeris dan berkata-kata sendiri.
“Ne, kenapa kau melakukannya Jungkook-ah?”
“Oppa, apa kau ingin menembakku lewat speaker
sekolah.”
“Jungkook-ah,
saranghae”
“ Sebenarnya, aku ingin menceritakan sebuah dongeng
kisah nyata kepada kalian, kemarin terjadi sebuah peristiwa yang mengukir
sejarah dalam hidupku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada yeoja yang
menghiraukan seorang Jeon Jungkook. Karena itulah, alam menghukumnya dengan
membuatnya melupakan sesuatu yang sangat berharga ditempat itu. Dan sesuatu
yang berharga itu adalah…… seorang pangeran tampan dan sebuah hati. Aku tau sekarang
kau pasti sedang mendengarku.”
“Waaaaaa..!!!” Teriakan para yeoja semakin
menjadi-jadi.
“Saat ini hatimu ada padaku. Aku sedang menahannya
agar hatimu tidak kabur. Jadi, cepatlah ambil hatimu dan temui aku. Jika tidak,
maka aku akan menancapkan panah cinta ke hatimu. See you Strange Girl.” Jeritan
para yeoja menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Ada emosi yang membara didalam
hati para yeoja itu.
“Ya! Siapa yeoja yang berani-berani mengacuhkan
Oppaku?”
“Ahh eottoke? Jungkook menyukai yeoja lain.”
“Sial! Siapa yeoja yang sudah berani memberikan
hatinya kepada pangeranku?!”
“Siapa sebenarnya yeoja itu?!! kalau saja aku
menemukannya, aku pasti akan meremukannya, membakarnya hidup-hidup, lalu
melemparnya ke kolam hiu.” Ujar seorang yeoja marah sambil melotot dan
mengepalkan tangannya. Sementara itu, disampingnya ada seorang yeoja yang
menundukan kepala sambil memandanginya. Ia hanya bisa menelan ludah melihat
yeoja itu.
“Dasar namja bodoh! Sepertinya aku sedang dalam
masalah besar. Hufh..” Ujar seorang yeoja
.
.
Jungkook membuka pintu lokernya dan disambut dengan
banyak surat berwarna-warni dari fan nya, ia melihat sesuatu yang aneh. Surat
yang berbeda dengan surat lainnya. Kertas putih polos yang dilipat membuatnya
terlihat sangat sederhana. Hal itulah yang membuat jungkook penasaran akan
isinya. Ia membuka lipatan kertas itu, tiba-tiba ia menyunggingkan senyuman.
Sedangkan dibelakangnya seorang yeoja membuka pintu lokernya dengan kasar dan
raut kesal.
.
.
. Hyeri Pov. (Momo)
Kubuka pintu lokerku sedikit kasar. Saat ini mode
badmood ku sedang ‘on’. Jam pelajaran selanjutnya adalah olahraga dan aku harus
lari-lari meskipun aku sedang datang bulan. Hufh.. Saat aku hendak mengambil
sepatu olahraga, aku terhenti karena suara ramai hentakan kaki mengisi koridor sekolah.
Terlihat seorang namja tinggi berambut coklat berhenti dihadapanku dengan nafas
yang terengah-engah.
“Jin Sunbae! Wae? Gwenchana?” Dia menghiraukanku.
Tapi, tiba-tiba dia langsung menarik tanganku dan memasukkanku kedalam loker
bersama dengan dirinya.
Disinilah aku sekarang. Didalam loker sempit yang
gelap bersama seorang namja tampan dan saling berhimpitan. Jarak badan antara
kita saat ini adalah 0 cm,sedangkan jarak wajah adalah 5 cm. Untung saja di
setiap loker ada lubang seperti ventilasi dipintunya sehingga ada oksigen dan
sedikit cahaya yang masuk. Aku merasa ada suara operator dikepalaku “mode badmood off”. Apa yang harus
kulakukan? Kucoba untuk memecahkan
suasana hening dan canggung yang tercipta diantara kita.
“Kenapa Sunbae selalu sembunyi didalam loker?”
“Aku melakukannya bukan hanya untuk sembunyi.”
Astaga, apa maksutnya dia memang sengaja memasukanku keloker karna ingin
mendekatiku. Apa yang akan dia lakukan padaku?
“Saat aku ingin sendiri dan banyak pikiran, aku
sering menghilang dari gerombolan BTS dan diam-diam masuk kedalam loker sambil
menutup mataku dan mendengarkan music. “
“Wae? Kenapa sunbae suka sekali berada didalam
loker?”
“Ketika aku didalam loker. Keadaan disekitar gelap
semua. Aku merasa tidak ada seseorang pun didunia ini selain aku. Hanya aku
sendirian, tanpa beban dan masalah apapun. Waktu seakan berhenti berputar. Alunan musik ditelingaku membuat pikiranku
semakin segar. Aku sangat menyukainya.”
Ucapan Jin membuat jantungku berdegup kencang.
Kalian tahu kenapa? Karna itu berarti saat ini ia merasa bahwa hanya ada kita
berdua didunia ini.
“Bolehkah aku meminjam mp3mu? Ada sebuah lagu yang
sangat aku sukai disana.”
“tentu saja. Ambillah, kau bisa mengembalikannya
kapanpun kau mau?” Hyeri menyodorkan mp3 nya ke tangan Jin.
“lagu yang kau sukai itu…, lagu yang mana?” Tanya
Hyeri penasaran.
“Sebenarnya…..” “Cklek.!” Belum sempat Jin
meneruskan kalimatnya kita sudah dikejutkan dengan namja berlesung pipit yang
membuka lokerku dengan beberapa namja lain dibelakangnya. Kurasa, para namja
itu lebih terkejut daripada aku karena mata mereka lebih terbelalak daripada
mataku.
“Jin.!!” Ucap Namjoon dengan ekspresi bodohnya,
sedangkan yang lain menganga melihat kami. Kami langsung mengeluarkan diri kami
dari dalam loker. Sepertinya sekarang saat yang tepat untukku menghilangkan
diri. Andai saja aku bisa berteleportasi, mungkin aku bisa menghindari tatapan
aneh dari para namja ini. Aku membungkukukan badanku kepada mereka lalu berlari
dengan kecepatan cahaya. Kulihat sekilas Jin mengukir lengkungan di bibirnya
disaat yang lain melihatku seperti psikopat karena melihat tingkah anehku.
“ Hyung, apa yang kau lakukan dengannya?” namja
pendek itu menatap dengan intens
“Jin, apa kau sudah gila? Bagaimana kau bisa berada
didalam loker dengannya?”
“Ne, aku rasa aku memang sudah gila. Aku gila karena
tertarik pada gadis gila.” Jin terus saja mengukir senyuman di bibirnya.
Sedangkan Jimin terlihat sangat terkejut mendengarnya.
“Sepertinya kau akan berubah seperti Jungkook.”
Ucapan Hoseok membuat Jin tersadar
“By The Way,
Jungkook-ah odiseo.?” Jin celingak-celinguk melihat gerombolan temannya
“Dia bilang akan menemui bidadarinya di surga, dia
memang sudah tidak waras.” Hoseok memutar-mutarkan jari telunjuk disamping
kepalanya.
“Hati-hati, jangan sampai kau seperti dia.”
“Mianhae Yoongi, tapi sudah terlambat.”
.
.
.
Suara langkah kaki dan siulan seorang namja memenuhi
tangga sekolah. Ia membuka sebuah pintu dan….. disinilah si namja bergigi
kelinci sekarang berada. Surganya seorang Jeon Jungkook yang tidak lain
adalah…. ‘atap sekolah?’ . Jungkook baru saja tiba dan sudah dikejutkan oleh
seorang yeoja berkuncir satu yang sedang berdiri di pinggiran pembatas atap dan
menatapnya dingin. Jungkook terlihat sangat bingung, lalu sebuah kata terlontar
dari mulutnya
“Andwe.!” Teriak jungkook sambil mengisyaratkan
tangannya untuk berhenti
“Jangan lakukan! Kumohon! Jangan lakukan itu! Apapun
masalahmu pasti ada solusinya. Umurmu masih panjang, jangan sia-siakan masa
remajamu. Kau itu cantik, untuk apa kau mau bunuh diri?! Apa karna diputus
pacarmu? Tenanglah, si tampan ini bisa menjadi milikmu. Kumohon! Jangan
melompat!” Si namja bergigi kelinci mencoba meyakinkannya untuk tidak melompat
dari atap, sedangkan si yeoja hanya terdiam dan melihatnya dengan tatapan aneh.
“Apa kau gila?” yeoja itu mengucap dengan entengnya.
Jungkook terdiam dan bingung.
“kau yang gila! Nona, sekarang kau yang sedang
berdiri di pembatas atap bukan aku.”
“kapan aku mengatakan kalau aku mau bunuh diri.?
Pakai otakmu! Jika aku memang berniat bunuh diri, aku pasti sudah melompat dari
tadi. Untuk apa aku masih menunggumu?”
“Jadi…, kau menungguku? Itu berarti surat ini memang
dari dirimu?” jungkook memperlihatkan selembar kertas putih di tangannya.
“tapi, kau memang benar-benar tidak ingin bunuh diri
kan?” yeoja itu hanya menghela nafas.
“Tepat sekali! Ini pertama kalinya seorang yeoja
hanya memberiku selembar kertas jelek dan sederhana, bukan surat dengan amplop
berwarna-warni yang dihiasi stiker love.”
“Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk mendengarmu
menceritakan hal bodoh. Mana barangku?” yeoja itu menjulurkan tangan panjangnya
dengan jari-jari yang ramping.
“Oh, maksutmu hatimu ini?” jungkook mengambil sebuah
benda dari sakunya dan memperlihatkannya .
“Sini, berikan padaku!”
“Kau yang membutuhkannya. Seharusnya kau yang kemari
bukan aku.” Yeoja itu mendengus kesal. Ia turun dari pembatas atap dan mulai
melangkahkan kakinya mendekati jungkook. Saat si yeoja hendak meraih kalungnya
di tangan jungkook, dengan cepat jungkook menjauhkan tangannya dari jangkauan
si yeoja.
“Ya! Apa yang kau lakukan? Cepat berikan kalungku!”
Yeoja itu terus saja mencoba menggapai tangan jungkook meskipun tubuhnya lebih
pendek dari jungkook. Sementara jungkook hanya terkekeh melihatnya sambil terus
merubah-ubah arah tangannya agar si yeoja tidak dapat menggapainya. Tiba- tiba
gerakan yeoja itu terhenti. Mukanya menjadi sedikit memerah karena wajahnya
hanya berjarak 3 centi dengan jungkook ditambah lagi sebuah tangan yang sedang
melingkar erat dipinggangnya membuatnya harus meneguk salivanya sendiri.
“Aku sudah menemukan kalung berhargamu. Seharusnya
kau memberikan sesuatu kepadaku sebagai tanda terima kasihmu.” Ujar Jungkook
dengan senyum evilnya kepada yeoja yang sedang membeku dan berjarak 3 centi
darinya. Tatapan mereka semakin lama terasa semakin dalam sampai-sampai secara
tidak sadar jungkook otomatis mengikis jarak diantara wajah mereka. Wajah
mereka semakin dekat… semakin dekat… dan semakin dekat… lalu…
“Arghhh..!!!” jungkook meringis kesakitan sambil
mengelus-elus kakinya.
“itu tanda terima kasihku.” Kini Yeoja itu yang memperlihatkan senyum
evilnya.
“Dengan menendang tulang keringku?!!!” yeoja itu
hanya tersenyum dengan wajah tak bersalah. Ia kemudian mulai meninggalkan jungkook yang tengah
meringis kesakitan.
“Hei.. tunggu! Setidaknya beritahu aku siapa
namamu!” yeoja itu menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menghadap
jungkook.
“Jika kau ingin tahu namaku, balikan badanmu dan
hitung sampai 10.” Dengan cepat jungkook berlari menghadap satu-satunya pintu
keluar dari atap tanpa mempedulikan kakinya yang masih kesakitan.
“untuk apa kau harus berdiri di depan pintu keluar?”
“aku bukan namja pabo! Saat aku membalikan badanku
kau pasti akan keluar melewati pintu ini, lagipula posisiku sekarang sudah
membelakangimu.”
“Yayaya…. Kau memang namja yang sangat cerdas!”
yeoja itu menggelengkan kepalanya. Jungkook tersenyum sembari mulai menghitung.
“Hana.., dul, set, net, dasot, yosot, ilgop, yodol, ahop,
YOL.!!” Jungkook dengan sigap melompat dan membalikan tubuhnya, namun… betapa
menganganya mulut jungkook melihat yeoja itu sudah hilang bagaikan ditelan
bumi.
“Ye.. ye.. yeoja itu... hilang? Bukankah hanya ada
satu jalan untuk pergi dari sini, yaitu…” jungkook berlari ke pembatas atap dan
menatap kebawah.
“….Jatuh..? ,tapi dia tidak ada dibawah. Bagaimana
mungkin seorang yeoja bisa menghilang dengan tiba-tiba? Apa gadis itu memiliki
kekuatan teleportasi? Atau jangan-jangan…..” jungkook sontak memeluk tubuhnya
sendiri dengan muka ketakutan.
“… dia hantu? Ah. Aniyo, itu mustahil… Aku tau
sekarang! Aku tau dia siapa.” Jungkook menyunggingkan senyum kemenangan bak
memenangkan sebuah olimpiade.
“Yeoja itu adalah…. seorang bidadari yang pergi ke
atas awan dengan terbang sembari mengepakan sayap indahnya.” Jungkook tidak
bisa membuat lengkungan dibibirnya kembali menjadi datar. Dia menyandarkan
kedua tangannya di atas pembatas atap. Lamunan jungkook dibuyarkan oleh suara
bentakan. Ia mengikuti asal suara dan melihat seorang kaum hawa dan kaum adam
sedang beradu mulut dibawah.
.
.
.Jimin Pov
Aku memasuki kelas bertuliskan 2-1. Baru sampai
didepan papan tulis, aku langsung menghentikan langkahku. Kulihat si Idiot Nerd
sedang memegang pensil, ah tidak!, lebih tepatnya menggenggam erat pensil
diiringi dengan ocehan murid sekelas yang sedang membullynya. Lalu “Ctakk..!”
aku terkejut melihatnya. Sepertinya dia sangat marah sampai-sampai pensil yang
digenggamnya patah. Namun hal itu, tidak menghentikan ocehan mereka.
“Uuuhhh, bagaimana ini aku takut sekali? Apa kau
akan membunuhku? Hahahah”
Si Idiot Nerd langsung berdiri dan pergi keluar
kelas. Saat melewatiku, ia bahkan tidak melirikku sama sekali. Kulihat sekilas
matanya berkaca-kaca. Kuharap dia baik-baik saja. Astaga! Apa ini? kenapa aku
tiba-tiba mengkhawatirkannya? Mungkin aku hanya merasa bersalah. Tiba-tiba
Eunbi berjalan melewati kelasku. Aku sontak mengejarnya karna ada hal yang
harus kukatakan.
.
.
.Hani Pov. (Sana)
Aku mendudukan diriku di bangku belakang sekolah.
Air mata sedang bercucuran memenuhi mukaku. Sesekali kuusap air mataku, namun
air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Aku melampiaskan kemarahanku dan
kekesalanku disini, karena disini aku bisa menangis dan marah-marah semauku
tanpa ada seorang penonton.
“hiks.. hiks.. memangnya kenapa kalau aku nerd?!
hiks.. apa salahnya menjadi nerd?! hiks.. Tuhan tidak akan menghukum seorang
nerd, hiks.. tapi Ia akan menghukum orang yang menghinanya!! Dasar kalian semua
Pabo!! Hiks.. hiks..” Aku perlahan menghentikan isakanku. Entah karena aku
terlalu banyak menangis, atau aku memang mendengar suara pertengkaran?. Aku
menolehkan kepalaku ke balik dinding. Ternyata memang ada 2 orang yang sedang
bertengkar. Omo! Itukan Jimin dan Eunbi. Aku terus mengintip mereka dari balik
dinding.
“Sampai kapan kau akan terus menyukainya?
Berhentilah menyukainya sekarang. kumohon”
ujar jimin dengan nada memelas.
“Kau pikir hatiku ini seperti robot yang bisa kau
kontrol semaunya.”
“jika kau terus menyukainya kau akan terluka.”
“Berhentilah beromong kosong! Kau sendiri yang akan
terluka kalau kau terus seperti ini. “
“Jin hyung sudah menyukai gadis lain! Dia
mengatakannya tadi padaku” ucapan Jimin berhasil membuat Eunbi terdiam. Lalu
perlahan matanya mulai dipenuhi air mata.
“Kau bohong! Kau berbohong agar aku berhenti
mencintainya dan berpindah hati padamu kan?!”
“Aku tidak pernah berbohong padamu. Kumohon aku
hanya tidak ingin kau terluka.”
“Aku tidak peduli! Meskipun dia menyukai gadis lain
atau menyukai nenekku sekalian, bahkan jika pada akhirnya aku terluka, aku juga
tidak peduli. Aku akan tetap menyukainya. ” Mendengar hal itu Jimin langsung
tidak bisa berkata-kata, matanya pun mulai berkaca-kaca. Eunbi melangkah pergi
meninggalkan Jimin.
“Hwang Eunbi.!!” Eunbi hanya menghentikan langkahnya
tanpa menoleh Jimin.
“Apakah benar-benar sudah tidak ada ruang untukku
dihatimu?” Tanya Jimin dengan nada memelas. Eunbi hanya menjawabnya dengan satu
kata dan melanjutkan langkahnya.
“Mianhee….”
Jimin hanya diam menatap lesu punggung Eunbi yang
terlihat semakin menjauh. Lalu, Jimin tiba-tiba menoleh ke belakang. Sontak aku
langsung menyembunyikan kepalaku. Terdengar suara langkah kaki. Hatiku mulai
berdegup kencang. Bagaimana ini? apakah dia melihatku? Apa sekarang dia menuju
kemari? Tuhan, apa yang harus kulakukan?. Tunggu dulu.., suara langkah kaki itu
hilang. Kurasa dia sudah pergi, dengan cepat aku mengangkat bokongku dari
bangku dan berlari menuju sekolah .
“Bukkkk!” aku terjatuh karena tertabrak ah ani..
menabrak seseorang. Kudongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Apa hobimu itu menabrak orang?” Aku dikejutkan oleh
Jimin yang sedang berdiri didepanku. Ternyata dia belum pergi, tapi masih
berada dibalik dinding.
“Jadi, kau benar-benar bisu ya? Aku bertanya padamu
tapi kau hanya menatapku. Kau menyukaiku?”
“Mwo?!! A.. a.. aniya.” untuk apa aku menyukai namja berengsek
sepertimu, bahkan meskipun didunia hanya tersisa satu namja, aku tetap tidak
akan mau padamu .
Tapi anehnya Jimin bertingkah seperti tidak terjadi
hal apapun . Matanya masih berkaca-kaca sesaat yang lalu, tapi sekarang dia
sudah berubah menjadi namja berengsek tukang bully lagi.
“Mi.. Mianhae Jimin-ah. Aku akan pergi sekarang.”
Aku melangkahkan kakiku untuk segera pergi. Namun, Jimin tiba-tiba menarik
tanganku dan memaksaku duduk. Aku dan Jimin duduk berdua dibangku belakang
sekolah. Astaga, rasanya canggung sekali. Aku tidak tau apa yang harus
kukatakan. Kemudian Jimin mulai angkat bicara tanpa menolehkan pandanganya
padaku.
“Kau mendengarnya kan?”
“Mendengar apa maksudmu?”
“Sudahlah. Jangan berpura-pura. Kau tau apa yang
kumaksud.”
“Mianhae, aku tidak sengaja.”
“Bisakah kau berhenti mengatakan ‘mianhae’?!. Aku
bosan mendengarmu minta maaaf.” Aku hanya menganggukan kepalaku pelan.
“Jadi, sekarang kau tau kan. Si Imut Park Jimin yang
usil, yang digilai banyak yeoja, yang selalu ceria dan tertawa. Sebenarnya, ia
hanyalah seorang namja berengsek dan pecundang yang memiliki cinta bertepuk
sebelah tangan.”Jimin terus menundukan kepalanya.
“Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku. Dan juga,
kau bukan seorang pecundang”
“Kau payah dalam menghibur orang. Aku yakin dimatamu
aku seorang namja yang brengsek.”
“Aku berkata jujur!. Untuk apa aku menghiburmu
disaat aku sendiri butuh hiburan?. Kau memang sedikit brengsek. Kau sering menghina
orang lain semaumu. Tapi, aku tau kalau sebenarnya kau itu namja yang baik. Kau
melakukannya hanya untuk melampiaskan kekesalanmu, bukan karna kau
menyukainya.” Kata-kataku berhasil membuat Jimin menolehkan pandangannya padaku
dan menatapku dalam.
“Mianhae.. untuk semua yang sudah aku lakukan
padamu. Jika kau kesal padaku, kau boleh mengumumkan hal tadi di speaker
sekolah seperti yang Jungkook lakukan.”
“Aku sudah bilang kan! Semarah apapun aku padamu,
aku tidak akan membocorkannya.”
“Wae.??”
“Karena…. Aku tidak suka jika ada seseorang yang
tersakiti karena aku.” Jimin semakin memperdalam tatapannya. Aku tidak peduli
meskipun dia menatapku sampai matanya keluar. Yang kutakutkan sekarang
adalah…bagaimana jika aku akan terhanyut dalam tatapannya?. Aku semakin takut
karena Jimin sedang mengukir seyuman dibibirnya.
“Jadi, sekarang kita teman?.” Jimin memberikan
tangannya untuk mengajakku bersalaman, lalu aku menjabat tangan Jimin sambil
memperlihatkan senyum indahku.
.
.
.
Mata-mata para namja dikantin terkunci pada sebuah
siluet indah yaitu pemandangan 5 yeoja yang sedang duduk di kantin VIP. Mereka
terlihat sedang bercanda tawa membuat mata para namja semakin terkunci pada
mereka. Kecuali, seorang yeoja yang sedang mengaduk-aduk jusnya tanpa henti sambil
melamun. Yeoja lain menatapnya dengan tatapan iba.
“Sudahlah unnie.., jangan terlalu dipikirkan.”
“Eoh, benar kata Yewon. Aku yakin jungkook hanya
bermain-main dengannya.”
“Kalimatmu benar 100% Yuna. Lagipula mana ada gadis di sekolah ini
yang dapat menandingi kecantikan seorang Kim Sojung, kecuali aku tentunya.
Hehe” Eunha mencoba menghibur unnie nya dengan tawa cengirnya.
“Aku tau, tapi tetap saja. Aku tidak suka dengan apa
yang dikatakan jungkook tadi. Awas saja kalau yeoja itu sampai berani menggodanya!.”
Sojung memegang erat gelas jusnya.
.
.
.Taehyung Pov.
Aku mengarahkan seluruh bola mataku ke segala
penjuru mencoba mencari buku bertuliskan ‘KIMIA’. Ah! Ini dia. Kutarik sebuah
buku dari dalam deretan buku sains. Ternyata tidak sia-sia usahaku meneliti
seluruh lekuk-lekuk perpustakaan yang menghabiskan waktu 2 jam. Disaat seluruh
siswa sudah kembali ke asramanya aku masih harus mencari buku sial ini. Aku
merogoh sakuku dan mengambil benda berbentuk persegi. Mulailah ku gerakan
jari-jariku.
Line
(bts group)
Taetae
: chingu-ya odiga.??
Namjoonie
: Basket yard, come here.. now.!
Taetae
: On The Way, hyung. J
Segeralah kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar
perpustakaan yang sudah sepi dan sedikit gelap, layaknya di film-film horror.
Aku ingin sekali cepat-cepat keluar dari sini. Namun, sebuah siluet berhasil
menghentikan langkahku saat aku hendak sampai di pintu keluar. Aku tidak
melangkahkan kakiku kedepan, tapi malah melangkah mundur 3 langkah. Aku
menolehkan kepalaku dengan sedikit ragu sembari menutup mataku. Akankah ini
menjadi film horror sungguhan?. Kepalaku sudah kuputar 90 drajat. Aku membuka
mata kananku. Setelah kuyakin apa yang kulihat, aku membuka mata kiriku juga.
Terukir sebuah lengkungan di bibir seksiku. Aku kembali merogoh saku dan mengambil
benda persegiku. Kuarahkan kamera handphoneku ke pojok perpustakaan dan “Klik”.
Kutekan tombol ‘Save’. Lalu, kuteruskan perjuanganku untuk segera pergi dari
tempat ini.
.
.
.Lapangan basket
Sebuah pemandangan indah terpampang nyata di tribun
lapangan basket. Gerombolan para namja tampan yang sedang bercanda dan tertawa
bersama. Kemudian seorang namja tinggi dengan earphone ditelinganya dan
senyuman diwajahnya memasuki lapangan basket dan mendudukan dirinya disamping
mereka. Keempat namja itu hanya menatapnya aneh.
“Ya., gwenchanayo?” Tanya Hoseok dengan penuh
kekhawatiran. Tak lama kemudian datang lagi seorang namja bergigi kelinci duduk
di samping mereka sambil tersenyum dan tertawa melihat secarik kertas yang ada
ditangannya.
“Awalnya kalung, sekarang berubah menjadi secarik
kertas. Hyung semakin hari semakin gila saja.” Shownu hanya bisa menghela
nafas. Lalu, datang lagi seorang namja alien yang sedang tertawa senang sambil
melihat suatu pemandangan di ponselnya.
“Jinja.!! Kau kenapa juga Tae? Apa kau kesurupan
hantu perpustakaan?” Namjoon hanya mendapat balasan berupa gelak tawa dari
Taehyung. Meskipun tawanya bukan dikarenakan pertanyaan konyol namjoon.
“Dasar namja aneh.!” Ejek Namjoon. Kemudian
datanglah lagi seorang namja berwajah baby face, namun keimutannya tertutupi
oleh ekspresinya yang sedang kesal. Ia membanting tasnya dan mendudukan dirinya
dengan kasar. Tapi, tiba-tiba dia terkekeh sendiri. Para namja itu semakin
bingung melihat keadaan namja yang terakhir datang.
“Aishh!! Jinjjayo.! Kau juga kenapa lagi Jim?! Kau
itu yang paling aneh diantara mereka. Kau kesal tapi kau terkekeh.” Yoongi
mulai kesal melihat tingkah chingu dan dongsaengnya.
“Ada apa dengan kalian! Kenapa otak kalian rusak
secara bersamaaan? ” namjoon mulai kesal juga meratapi mereka.
“Jin, ada apa denganmu? Kalau mereka bertiga, aku
bisa maklum karna mereka memang namja yang tidak waras dari dulu. Tapi kau….,
ini pertama kalinya kau seperti ini.” tingkah Jin semakin membuat Hoseok
khawatir, karna ia juga tidak mau jika temannya yang masih waras ikut berubah
menjadi seperti dongsaengnya yang kelainan jiwa. Sayangnya keempat namja
tersebut menghiraukan kecemasan chingunya dan tetap terlelap dalam lamunan.
Sampai….. Jin yang awalnya menjaga agar bibirnya terus melengkung tiba-tiba
membelalakan matanya dan merubah bentuk bibirnya menjadi huruf ‘o’.
“Yak!! Aku lupa, aku harus menemui Mr.Park 15 menit
yang lalu. Aku pergi dulu.” Jin mengambil tasnya dan berlari secepat kilat
meninggalkan para dongsaengnya.
.
.
.Jin Pov.
Saat ini aku merasa seperti sedang berada dalam
balap lari, namun bukan dengan manusia melainkan dengan kuda. Ah.. bisa mati
aku!. Kalian pasti heran kenapa aku sampai mau hampir kehabisan nafas hanya
karna seorang guru disaat semua guru disini takut untuk menghukumku. Itu
karna…, guru yang satu ini berbeda. Mr.park adalah guru terkiller di sekolah
ini. Kepala sekolah dan semua guru disini takut padanya. Bahkan, pemilik
sekolah sangat hormat padanya apalagi orang tuaku. Padahal dia tidak lebih dari
seorang guru kimia. Terus saja kutancap gasku tanpa mengerem sedikitpun
hingga….
All I wanna do, Is be with you, be with you…
Telingaku menangkap sebuah suara
merdu yang sangat familiar. Suara itu seakan magnet yang menarikku untuk
mendekat. Entah kapan aku merubah arah jalurku,
tiba-tiba aku sudah berada didepan ruang music. Mataku menangkap seorang yeoja
berambut keriting yang sedang menyanyi dengan merdunya sambil menekan-nekan
chord piano.
There’s nothing we can do, Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be… with… you...
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be… with… you...
Ia mengakhiri lagunya dengan nada
rendah yang sangat halus. Tapi, ia sangat terkejut dan sontak memberdirikan
tubuhnya saat melihatku berdiri di ambang pintu. Apakah aku seperti hantu??.
“Apa aku sejelek itu? Kau sangat
terkejut saat melihatku seperti melihat hantu.”
“A.. aniyo.., Sejak kapan sunbae ada
disana?”
“Entahlah, mendengar suaramu
membuatku lupa akan segalanya.” kuberikan senyumanku yang paling menggoda.
Wajahnya semakin terkejut setelah mendengar kalimatku dan berubah menjadi
semerah tomat sampai…. Daebak! Ia imut sekali..!!
“Suaramu merdu, dan lagunya juga
bagus. Apa kau membuatnya sendiri?”
“Gomawo sunbae. Sebenarnya, itu lagu
dari film High School Musical.”
“Judulnya apa?”
“Just Wanna Be With You”
“Me too.” Dua kata dariku yang
berhasil membuat wajahnya lebih merah daripada tomat. Entah kenapa aku sangat
suka menggodanya.
“Oh ya sunbae, apa yang mau kau
katakan?” kurasa ia mencoba mengalihkan pembicaraaan.
“Mengatakan apa? Kau berharap kata
‘Saranghae’ keluar dari mulutku?” mengalihkan pembicaraan tidak akan berhasil
Yoon Hyeri.
“A.. aniyo.. mak.. maksutku bukan
seperti itu. Tadi siang kau belum meneruskan kalimatmu ingat?” video 6 jam yang
lalu muncul di benakku ‘sebenarnya…..’ ah! Aku ingat sekarang! tadi siang aku
ingin mengatakan sesuatu tapi tidak complete karna segerombolan namja gila
datang kepadaku dan membuat Hyeri berlari.
“Oh yang itu, ehmm…. Aku ingin
bilang kalau sebenarnya...”
“Drrttt Drrtt Drrttt” Hyeri merogoh
ponselnya didalam sakunya. Ya Tuhan! Lagi?! Kurasa aku memang tidak ditakdirkan
untuk mengatakannya. Setelah mengotak-atik ponselnya, ekspresinya berubah 360
drajat. Warna merahnya hilang berubah menjadi warna putih.
“Mianhae sunbae, aku harus pergi
sekarang juga.” Sepertinya ia tergesa-gesa.
“Tunggu, beritahu aku dulu siapa
namamu.!” Kutarik pergelangan tangannya.
“Namaku
Yoon…”
“Park!!!” Ujarku memotong. Sekali
lagi, aku melupakan Mr.Park.
“Baiklah, kau pergi saja karna aku
juga harus pergi.” Aku dan yeoja itu sama-sama berlari menujuh arah yang
berlawanan. Suaranya memang membuatku lupa akan segalanya, bahkan Mr.Park. Aku
terus berlari dan berlari hingga berada tepat didepan pintu coklat bertuliskan
“Teacher’s Room”. Ini hanya pintu coklat sederhana tapi dimataku ini menjadi
pintu merah neraka. Kutarik nafas dalam dan kubuka pintu itu.
.
.
.
Jam dinding menunjukan 06.30. 15
menit lagi bel jam pertama berbunyi namun koridor-koridor sekolah masih ramai
dengan suara para murid Sevit High School. Bahkan, diantara mereka ada yang
sedang bermain skateboard. Pintu masuk kaca terbuka dan menampakan beberapa
yeoja cantik yang melangkahkan kakinya masuk kedalam sekolah. Suasana koridor
menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Seluruh pandangan mata terpukau mengarah
pada mereka. Mereka terus berjalan santai dengan pandangan mata lurus kedepan.
Semua murid yang ada dikoridor merapat ke tembok untuk memberi jalan pada
mereka. Entah mengapa para murid itu melakukannya, padahal yeoja-yeoja itu
bukan GFriend. Terdengar banyak bisikan-bisikan dari para murid.
“Siapa mereka?”
“Apa mereka anak baru? Aku tidak pernah melihatnya.”
“Mereka cantik juga.”
“Apa maksutmu cantik? Bahkan, kata ‘cantik’ tidak dapat
digunakan untuk mendefinisikan mereka. Mereka seperti malaikat yang turun dari
surga.”
“Mereka terlihat seperti sekumpulan gadis sombong.”
“gwenchana, asalkan mereka tidak menggoda BTS. Tidak akan
terjadi perang.”
“Dia….” Ucap seorang namja bergigi kelinci
TBC
Jadi gimana? gaje ya? maklum lah masih amatiran. Jangan lupa komen reader diperlukan. critize will be okay, but don't judges.!! okay, see you in next part.
TBC
Jadi gimana? gaje ya? maklum lah masih amatiran. Jangan lupa komen reader diperlukan. critize will be okay, but don't judges.!! okay, see you in next part.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar