Dangerous
angels
Title : Dangerous angels
Author : Mrs. Me
Cast :
Ø Sana twice as lee
hani
Ø Momo twice as yoon hye ri
Ø Tzuyu twice as go
baek hee
Ø Nayeon twice as
im nayeon
Ø Choi Seong Guk As
Bosley
Ø All member bts
Ø Shownu monsta x
as ahn shownu
Ø All member
gfriend
Genre : school life, romance, action
#PART 4
Empat yeoja sedang berdiri didepan
pintu loker menunggu sesuatu. Beberapa namja datang dari arah lapangan basket.
Seorang namja tinggi berambut coklat menghampiri lokernya dan membukanya.
“Sekarang, kalian akan melihat
kehebatan seorang Yoon Hyeri.” Hyeri menghampiri sekumpulan namja itu.
“Oppa, bisakah aku meminjam
handphonemu. Aku menghilangkan handphoneku dan tidak bisa menemukannya.” Hyeri
mengeluarkan wajah bingung dan memelasnya. Jin langsung memberikan handphonenya
tanpa berkata-kata. Hyeri menelfon handphonenya menggunakan handphone Jin.
“jeon jigeu bel bel bel..” suara
terdengar dari balik tempat sampah. Hyeri memungut harta karunnya dari belakang
tempat sampah.
“Gamsamhamnida Oppa.” Hyeri
menyodorkan handphone Jin ke tangan pemiliknya.
“Oppa disana ada nomorku, banyak
namja yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan nomorku. Jadi, tolong
jangan memberikannya pada siapapun, ne?.”
“Wuuuu… daebak… kau beruntung hyung.”
ujar kagum para namja disamping Jin serempak. Sedangkan Jin hanya menatap hyeri
dengan tatapan datar. Jimin melirik Jin yang sedang mengotak atik handphonenya.
“Kenapa kau menghapusnya hyung?”
“Mwo? Kau menghapus nomorku?” hyeri
terkejut mendengar pertanyaan Jimin.
“Kau bilang tidak ingin para namja
memiliki nomormu kan. Jadi, aku hapus saja. Mereka bisa saja mengambil nomormu
dari handphoneku.”
“Para namja akan mencari seribu alasan untuk
mendapatkan nomorku, namun aku selalu mengacuhkan mereka. Asal Oppa tau saja,
sangat jarang seorang Yoon Hyeri memberikan nomornya pada namja. Tapi, karna
kau sudah menolongku, jadi aku akan memberikanmu nomorku dengan gratis.” Ujar
Hyeri dengan nada menggoda dan senyuman tersungging.
“Aku tidak butuh.” Balas Jin dingin
tanpa melihat wajah Hyeri yang sudah seperti Hulk. Ketiga yeoja diujung sana
sontak membuka mulutnya dan tertawa dengan keras melihat temannya untuk pertama
kalinya dipermalukan seorang namja. Suara tawa mereka berhasil membuat para
namja mengarahkan pandangannya pada mereka. Seorang namja imut langsung
berjalan mendekati mereka dan menarik tangan Hani lalu menyeretnya pergi.
.
.
.Hani Pov. (Sana)
Jimin terus menyeret tanganku.
Langkahnya terhenti ketika kita berada dibangku belakang sekolah. Dia menarik
tanganku membuatku terduduk disampingnya. Kutatap tangan Jimin yang sedang
menggenggam erat tanganku. Benar saja, dari tadi Jimin masih belum sama sekali
melepas tanganku, apakah ia tidak menyadarinya atau memang sengaja?.
Mata Jimin mengikuti arah pandangku.
Ia terkejut ketika mengetahui tangannya masih menggenggam tangan mungilku dan
sontak ia melepasnya.
“Kenapa kau mengajakku kemari?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku.
Kenapa kau berubah?”
“Aku sudah menjawabnya tadi dikelas.
Kau lupa?”
“Kau tidak menjawabnya. Kau hanya
bertanya bagaimana menurutku.”
“itulah jawabanku.” Jimin tiba-tiba
mendekatkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan intens
“Kau…. apa kau menyukaiku?” Aku
hanya terdiam mendengar pertanyaannya.
“Kau tidak berubah karna ingin
memikatku kan?! Apa kau menyukaiku karna akhir-akhir ini aku dekat dan sering
menolongmu?. Jika memang seperti itu, berarti kau sudah salah paham. Kau tidak
bisa menganggap hubungan pertemanan kita sebagai rasa saling suka.” Jimin terus
menatapku dengan penuh penekanan.
“Kenapa kau diam saja? Jawab aku.
Semua itu tidak benar kan?”
“Mollayo, aku sendiri juga tidak
tahu. Menurutmu bagaimana?” jawabku dengan enteng kemudian berlalu meninggalkan
Jimin yang masih berdiri disana sambil menggerutu.
“Ahh! Sebenarnya dia menyukaiku atau
tidak sih?!!” gerutu Jimin sambil mengacak rambutnya.
.
.
.
7 namja dan 6 yeoja sedang berkumpul
di kantin VIP. Seorang namja merogoh sakunya berusaha mengambil handphone yang
bergetar. Kemudian ia mengotak atik handphonenya.
From :
Jinnie Hyung
Temui aku
sekarang di arena wall climbing.
“Hyung aku harus pergi.” Ujar si
namja pada para hyungnya yang duduk didepannya.
“Tahyung-ah odiga? Kau baru saja
disini tapi sudah mau pergi.” Yu Na menatap taehyung dengan sedikit kecewa.
“Jin hyung menyuruhku untuk
menemuinya. Aku pergi dulu Bye.” Taehyung kemudian lari meninggalkan
teman-temannya dan seorang yeoja berwajah muram itu. Tak beberapa lama setelah
taehyung pergi, seorang namja datang ikut berkumpul dengan mereka.
“Jin? Mana taehyung.” Yoongi
celingukan mencari taehyung dibelakang Jin.
“Molla, kenapa bertanya padaku.
Memang aku ibunya?”
“Taehyung
bilang tadi ia pergi menemuimu.” Jelas Hoseok
“Daritadi aku ada di ruang music.”
“Lalu, taehyung kemana?” wajah Yuna
menjadi khawatir.
“Tenanglah, tidak akan ada orang
yang mau menculiknya. Ia mungkin hanya ingin bolos di suatu tempat.” Ujar
namjoon enteng kemudian memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.
.
.
.
Taehyung celingukan mencari seorang
namja tinggi berambut coklat, tapi nihil! Ia tidak menemukan sosoknya sama
sekali. Taehyung mendengus kesal tanda frustasi. Ia berencana untuk kembali ke
sekolah namun, langkahnya terhenti oleh sesosok yeoja yang sedang melakukan
aksi wall climbing. Mulutnya sedikit menganga melihatnya.
“Wahh yeoja itu berani sekali!”
decaknya terkagum-kagum.
“Yak tunggu dulu! Ya ya ya…”
Taehyung sontak segera berlari mendekati dinding ketika melihat yeoja itu
tiba-tiba pingsan lalu terlepas dari pegangannya dan terjatuh. Alhasil, untung
saja yeoja itu jatuh tepat ke tangkapan tangan taehyung.
“Yak! ireona..!”Taehyung mengguncang
– guncang tubuh mungil si yeoja. Gerakan Taehyung terhenti. Matanya terfokus
pada wajah yeoja yang sedang tertutupi oleh beberapa helai rambut. Taehyung
menyibak helai rambut itu dengan pelan. Matanya semakin terpukau melihat wajah
cantik yeoja itu. Tapi, bukan hanya cantik yang ada dipikiran taehyung.
“Yeoppeuda. Tapi, wajahnya
familiar. Siapa kau sebenarnya??”
Tatapan taehyung semakin lekat
.
.
.Yeoja Pov.
Kubuka mataku perlahan. Kulihat
ruangan bercat putih. Tampak sosok tampan berada didepanku sedang menatap lekat
wajahku. Kubangunkan diriku perlahan lalu duduk bersandar dibantal belakangku.
“Aku bukan yeoja bodoh, jadi aku
tidak akan bertanya dimana aku sekarang. Aku juga bukan yeoja kuper, jadi aku
tidak akan bertanya kau siapa. So, yang aku tanyakan adalah.. kenapa kau bisa
ada disini?”
“Kau terlalu banyak bicara untuk
seorang yeoja yang baru saja sadar dari pingsannya. Tapi, karena aku namja yang
baik hati jadi, yang aku tanyakan adalah.. Gwenchana??”
“Gwenchanayo, dan juga… gomawo karna
kau sudah menolongku dan menggendongku ke UKS.” Kulihat ekspresi taehyung
berubah menjadi bingung.
“Daebak! Mungkin sudah jelas sekali
kalau aku yang menolongmu, tapi aku tidak mengatakan kalau aku yang
menggendongmu ke UKS. Bagaimana kau bisa tau? Apa kau punya indra keenam?”
entah kenapa aku merasa iba melihat taehyung, ia masih muda dan tampan tapi
otaknya sudah rusak.
“hufh.. bukannya sudah kubilang aku
bukan yeoja bodoh.” Kuhela nafasku pelan. Aku terkejut ketika ia tiba-tiba
mendekatkan wajahnya kearahku membuatku sontak memundurkan wajahku. Matanya
terfokus pada wajahku yang berjarak 5 centi dari wajahnya.
“Yak, apa yang kau lakukan?”
kulontarkan kalimatku dengan tubuh yang mulai membeku.
“kau imut sekali, wajahmu familiar.
Rasanya aku pernah bertemu denganmu, tapi dimana ya?” wajahku sangat dekat dengan
wajahnya membuatku semakin membeku, kutatap mata taehyung yang sepertinya sudah
tenggelam dalam tatapanku. Aku dan taehyung terus bertatapan sampai benda
bergetar di saku taehyung membuatku tersadar.
“Wajahmu terlalu dekat!” kudorong
tubuhnya kebelakang. Ia mengambil ponsel di sakunya lalu mengotak-atiknya.
“Aku harus pergi sekarang, cepat
sembuh.” Taehyung menampakan senyumannya lalu mengelus puncak kepalaku sebelum
ia beranjak pergi. Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh tingkahnya.
“Bytheway, Siapa namamu?” taehyung
berhenti tepat didepan pintu dan menoleh kepadaku.
“namaku… Im Nayeon.”
.
.
.
“Annyeong!” ujar seorang namja yang
sedang bersandar dipintu dan melambaikan tangannya. Yeoja yang disapa hanya
diam lalu melangkah mencoba pergi sebelum jungkook kemudian menarik tangannya.
“kau sudah 2 kali menghilang dari
hadapanku, kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Yeoja itu memasang
wajah bingung. Jungkook kemudian memusatkan matanya di nametag yang terpasang
dirompi yeoja itu.
“Go.. Baek.. Hee.. . Jadi, itu
namamu.” Baekhee terus saja membungkam mulutnya.
“Yak! kau tidak bisu kan?! Kenapa
kau suka sekali menghiraukanku?! Aish, sudahlah. Kau juga tidak akan menjawab
pertanyaanku. Biarkan aku saja yang memperkenalkan diriku sendiri. Je iremeun
Jeon…”
“Arasseo! kau tidak perlu
memberitahuku.” Potong baekhee dengan nada kesal.
“Akhirnya, kau bicara juga. Aku
tidak mau kau pergi jadi apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tetap disini?”
Baekhee langsung mengalihkan pandangannya dan tersenyum evil. Sebuah ide
terlintas dibenaknya.
“Sepertinya ini hal yang menguntungkan. Aku harus
memanfaatkannya.”
“kalau begitu,.. belikan aku makanan
dan minuman. Aku lapar sekali setelah dance, dan juga belikan aku permen
lollipop.” Pinta baekhee dengan wajah angkuhnya. Tanpa basa basi jungkook
langsung berlari dengan cepat membuat baekhee mengangakan mulutnya.
“apa dia sangat menyukaiku?
Bagaimana mungkin dia sudah sangat menyukaiku hanya dengan 3 kali pertemuan
singkat? Namja aneh.” Gerutu baekhee.
Selang sekitar 15 menit, seorang
namja datang memasuki pintu. Mata baekhee menjadi berbinar-binar, tapi bukan
karena melihat si namja melainkan melihat beberapa bungkusan yang dibawanya.
Jungkook duduk didepan baekhee sambil mengeluarkan makanan dan minuman dari
keresek. Tanpa berpikir panjang baekhee langsung membuka plastik mangkuk
jjanmyeon lalu memakannya. Jungkook terkejut melihat tingkahnya.
“Apa ada seseorang yang akan mencuri
makananmu? makanlah dengan perlahan!. Makanmu bahkan lebih cepat dari namja.”jungkook
sedikit tersenyum melihat cara makannya.
“Saat kelaparan aku memang seperti
ini. Berhentilah tersenyum! Kau meledekku karena cara makanku aneh kan.”
“aku berpikir kalau cara makanmu
lebih ke unik daripada ke aneh. Sepertinya hanya kaulah satu-satunya yeoja cantik
yang makan seperti ini. Kau pasti bisa memenangkan lomba makan jjanmyeon.”
“Berhentilah merayuku! Ah.. aku
masih lapar.” Baekhee mengelus-elus perut datarnya.
“kajja! Ikut aku!” jungkook menarik
tangan baekhee pergi meninggalkan ruangan dance.
.
.
.
3 orang yeoja sedang berkumpul di
kamar asrama. Nayeon sedang memainkan laptopnya, hyeri sedang menonton tv, dan
hani sedang membaca novel. Hyeri melirik jam dinding yang menunjukan pukul 8
malam. Wajahnya menjadi sedikit bingung.
“sebenarnya kemana dia pergi? Kenapa
sampai sekarang belum pulang?.” Tanya hyeri tanpa mengalihkan pandangannya dari
televisi.
“tenanglah, dia bisa menjaga dirinya
sendiri.” Jawab hani masih dengan fokusnya membaca novel.
“Terakhir kali aku melihatnya dia
bilang akan pergi ke ruangan dance. Mustahil kalau dia akan menari sampai
sekarang. Kecuali, dia adalah seorang robot.”
Nayeon tetap terfokus ke laptopnya. Mereka mengobrol tanpa mengalihkan
perhatian pada kegiatan mereka masing-masing.
“Dia bukan robot tapi seorang
vampire. Kau tau kan betapa dinginnya dia kepada para namja. Mungkin sekarang
dia sedang mencari mangsa. Kalau kau begitu khawatir suruh saja nayeon
melacaknya, dia memakai kalungnya kan.”
“Oke hani, aku akan melacaknya. Aku
juga penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang.” nayeon terus
mengotak-atik laptonya. Tiba-tiba ia membelalakan matanya.
“Mwoya!!” teriak nayeon yang tidak
digubris teman-temannya.
“Yak! apa kalian tau apa yang ia
lakukan?!”
“Apa kau melihatnya diatap asrama?. Tenanglah,
ia disana hanya untuk menyegarkan pikiran bukan untuk bunuh diri.” Ujar hyeri
enteng sambil memencet tombol ganti pada remote.
“Nayeon-ah, berhentilah berteriak
dan bertingkah berlebihan. Memangnya apa yang dilakukannya?” ujar hani yang
mencoba terus terfokus ke novelnya.
“Dia sedang…… KENCAN!” nayeon
berhasil membuyarkan fokus hani dan hyeri. Mereka langsung menatap nayeon
dengan wajah terkejut lalu berlari menghampiri nayeon. Hyeri membaca sebuah
tulisan yang ada di laptop nayeon.
“ Rainbow Love Ice Land? Daebak!”
“Jadi, dia benar-benar sedang
kencan? Cepat sekali. Wah!” Hani tidak bisa mengatupkan mulutnya yang menganga.
“Bukannya dia paling benci saat
diberi tugas merayu namja?. Hmm.. kekuatan seseorang yang berambisi memang
sangat besar. Eotteoke, hyeri-ya? Sepertinya kau akan kalah dengannya.” Nayeon
memberikan senyum mengejeknya kepada hyeri.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain seorang
yeoja duduk dibangku kafe sedang asik menikmati ice creamnya sampai-sampai
tidak merasa kalau namja didepannya sedang memperhatikannya dengan tatapan
penuh arti.
“Aigoo, apa kau benar-benar seorang
yeoja?”
“Kenapa? Apa aku berbeda?”
“Sangat! Kita sudah pergi makan
jjanmyeon, tteokboki, burger, sandwich, dan sekarang ice cream. Apa menurutmu
ada yeoja yang makan semua itu hanya dalam waktu 5 jam?”
“Ada! Yeoja didepanmu contohnya.”
Ujar Baekhee sambil memasukan sendok kemulutnya.
“Yah dan kau juga satu-satunya.
Bagaimana kau masih bisa tetap kurus?”
“Meskipun terkadang makanku banyak,
tapi aku tetap kurus dan perutku tetap kecil. Bukankah itu hebat?” baekhee
tersenyum bangga, sedangkan namja didepannya hanya menghela nafas.
“Apanya yang hebat?! Itu penyakit!
Pasti cacing diperutmu jumlahnya sangat banyak.”
“Mwo?! Yak! kau mengejekku
sekarang?”
“Menurutmu itu pujian?” ucapan
jungkook berhasil membuat wajah baekhee berubah kesal, tapi ia menahan untuk
mengeluarkan tinjunya.
“Tapi…, kenapa kau mengajakku makan
ice cream disini? Ini kan tempat hanya untuk kencan.” Baekhee memutuskan untuk
mengganti topik pembicaraan untuk menurunkan amarahnya.
“Menurutmu kita sedang apa sekarang?
Kita kan memang sedang kencan.”
“Heol, aku memintamu untuk
membelikanku makanan bukan untuk mengajakku kencan.” Mendengar baekhee jungkook
langsung memajukan wajahnya sambil berpangku tangan. Ia memasang senyuman
dibibir tipisnya membuat wajahnya terlihat sangat tampan.
“Tidak ada bedanya dengan sekarang
kan. Kita sudah seharian berkeliling, bersenang-senang dan makan bersama. Yang
kita lakukan ini termasuk kencan.” Jungkook terus menunjukan wajah tampannya
membuat mata baekhee sdikit terpukau.
“Bukan kencan namanya jika yang
menganggapnya hanya satu pihak. Dan juga, bagaimana kau bisa langsung berkencan
dengan yeoja yang baru saja kau kenal?”
“Wae? Yang istimewa itu kan memang
cinta pada pandangan pertama.” Jungkook heran ketika baekhee tiba-tiba
menatapnya dengan tatapan intens.
“Jujurlah padaku!. Kau ini seorang
playboy kan?”
“Aish! Kenapa para yeoja selalu
menanyakan itu!. Mereka marah saat aku menjawab iya dan tidak percaya saat aku
menjawab tidak.” Wajah tampan jungkook berubah menjadi kesal.
“Para yeoja? Aigoo, ternyata benar
kau memang seorang playboy.”
“Terserah kau saja lah, aku
menyerah.”
.
.
.
Seorang yeoja baru saja masuk ke
kamar asrama dan sudah dibanjiri oleh pertanyaan dari ketiga sahabatnya.
“Bagaimana kencanmu? Apa kencanmu
sukses?” - Nayeon
“Kau pergi kemana saja dengannya?
Apa saja yang kalian lakukan?” - Hani
“Bagaimana kau bisa langsung
berkencan dengannya? Bagaimana caramu merayunya?” - Hyeri
Sementara yeoja yang ditanyai hanya
diam membisu dengan memasang wajah terkejut. Baekhee kemudian menghela nafasnya
panjang dan berjalan menuju ranjang empuknya.
“Apa kalian sedang berusaha menjadi
wartawan?” ujar baekhee dengan nada kesal.
“Chukkae, kau sudah menang Go
Baekhee.” Hani memberikan applause kepada baekhee.
“kau sangat jjang! Tapi tetap saja
kau tidak lebih hebat dariku.”
“Kau benar hyeri-ya. Baekhee-ya, kau
menang saat ini tapi kau bisa saja nanti kalah. Bagaimana jika nanti kau yang
akan lebih dulu benar-benar menyukai jungkook?”
“Kurasa yang harus kau khawatirkan
tentang hal itu adalah dirimu sendiri Nayeon-ah.”
“Tenang saja, Taehyung terlalu bodoh
untuk namja yang bisa aku sukai.”
“oettkeo.. naega..” suara music
terdengar dari handphone nayeon. Ia meraih handphone nya lalu pergi keluar
menghiraukan teman-temannya yang masih asik berdebat.
.
.
.
Seorang namja sedang terduduk santai
di kursi lobi sambil memutar-mutarkan handphonenya.
“Katakan apa yang kau inginkan!”
pinta nayeon dengan nada malas yang kemudian duduk di kursi di depan taehyung.
“Sekarang aku tau siapa dirimu.!”
Ujar taehyung dengan semangat yang membara.
“tentu saja kau tau. Aku sudah
memberitahumu kalau namaku Im Nayeon.” Masih dengan nada malas khas nayeon.
“Bukan itu maksudku. Kau si gadis
laundry kan?!. Kau adalah yeoja imut yang kutemui di ruang laundry, kau ingat?”
“yeoja imut?, baiklah aku memang
imut tapi, gadis laundry? Tidakkah kau memiliki nama yang lebih baik?
Yeojachingu-mu contohnya.” Kalimat
nayeon membuat wajah taehyung berubah menjadi semerah tomat. Tapi seorang taehyung
tidak akan kalah begitu saja.
“yeojachingu-ku? Hmm tidak buruk.
Kalau begitu, bisakah aku menciummu sekarang juga?” sekarang wajah nayeon yang
berubah menjadi tomat dan sangat tegang.
“Wae? Kau sendiri kan yang memintaku
memanggilmu yeojachingu-ku. Jadi, aku boleh menciummu kan. Kenapa wajahmu
sangat tegang?” tambah taehyung membuat nayeon membelalakan matanya.
“ma.. mak.. maksutku, ha.. hanya
chingu.. Hanya chingu!” nayeon berusaha mengelak.
“Omo! Kenapa sekarang kau jadi gadis
gagap? Kau malu ya. Aigoo, kau menjadi semakin imut. Pasti akan menjadi lebih
imut lagi jika aku menunjukanmu itu.” Taehyung semakin senang menggoda nayeon,
dia terus saja tersenyum.
“itu? Itu apa?”
“itu adalah momen luar biasamu, dan
hanya aku saja yang memilikinya.” Taehyung semakin menyunggingkan senyuman
jailnya. Sementar nayeon bingung dengan apa yang dimaksud taehyung. Taehyung
kemudian memperlihatkan foto yang ada dihandphonenya.
“Yak! berikan padaku!” nayeon
langsung meraih handphone taehyung, namun taehyung dengan sigap menjauhkan
handphonenya dari jangkauan tangan mungil nayeon.
“Apa kau pikir aku akan begitu saja
menyerahkannya padamu nona Im?” taehyung menunjukan senyum evilnya.
“Ah! Bagaimana kau bisa
memilikinya?! Jebal! Hapuslah.” Nayeon memohon kepada taehyung dengan nada
memelas dan merengek.
“Aigoo, imutnya.!! Baiklah, aku akan
menghapusnya asalkan dengan satu syarat. Kau harus meluangkan waktumu besok.”
“Meluangkan waktu untuk apa? Apa
besok hari ulang tahunmu?”
“Bukan hari ulang tahun, tapi
mungkin akan menjadi hari jadi kita.” Taehyung tersenyum disaat nayeon
membelalakan matanya.
“Mwo?! Apa maksudmu? Apa besok kita
akan ber…-”
“Eoh!! Kau benar, besok kita akan
berkencan. Jadi, persiapkan mentalmu dan berdandanlah yang cantik. Arachi?!
Anyyeong yeojachingu-ku.” potong taehyung yang kemudian mengelus puncak kepala
nayeon lalu berlalu pergi tanpa mau mendengar jawaban nayeon. Nayeon hanya
terpaku ditempatnya.
“Persiapkan mental?? Memangnya kita
akan kencan atau akan uji nyali?” gerutu nayeon sambil meratapi punggung
taehyung yang semakin menjauh.
.
.
.
Seorang yeoja berjalan dikoridor sambil
membawa kotak berwarna pink. Ia menghentikan langkah kakinya saat berada tepat
didepan seorang namja yang baru saja keluar dari kelas.
“Jin Oppa, aku membawakan coklat
untukmu. Ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin. Kuharap
kau mau menghabiskannya karena ada banyak cinta didalam coklat ini.” hyeri
menyodorkan kotak pink itu kepada Jin sambil memperlihatkan senyum cantiknya.
“Aku tidak suka coklat.” Ujar Jin
dengan dingin sambil mencoba pergi sebelum Hyeri menarik tangannya.
“Tapi Oppa, aku sudah bersusah payah
membuat coklat ini untukmu. Aku sudah menaruh seluruh perasaanku padamu didalam
coklat ini.” Hyeri terus mencoba merayu Jin dengan senyumannya bahkan ia
mengedip-ngedipkan kedua mata indahnya.
“Apa kau tuli?! Dia bilang tidak
suka coklat!” bentak Eunbi yang datang entah darimana
“Jika aku menerimanya pasti juga
teman-temanku yang akan memakannya. Jadi, percuma saja kan. Lebih baik kau
makan sendiri saja.”
“Abaikan saja yeoja gila ini Oppa!
Kajja kita kita ke kantin.” Eunbi menarik lengan Jin lalu pergi berlalu
menghiraukan ucapan Hyeri.
“Tapi Oppa.!!..” Hyeri menghentikan
kalimatnya karena hanya tersisa aroma Jin didepannya.
.
.
.
Tiga yeoja sedang mengobrol bersama
dengan santai di kantin sekolah. Mereka bertiga seketika bungkam saat seorang
yeoja datang dan membanting kotak pink didepan mereka.
“Yak!! Apa dia seorang namja?!
Memang ada namja seperti dia?! Dasar namja pabo! Tidak berhormon! Dia pasti
seorang gay! Aku yakin sekali! Dan juga, dasar yeoja jalang!” Hyeri datang
dengan marah-marah membuat ketiga temannya menatapnya heran.
“Wae? Dia mengabaikanmu lagi?” Tanya
Hani sambil menyedot milkshakenya. Baekhee membuka kotak pink itu.
“Wah.. Coklat..” mata baekhee
menjadi berbinar-binar. Ia mengambil sepotong coklat lalu memasukannya ke mulut
kecilnya.
“Yak! jangan memakannya! Itu coklat
yang kubuat khusus dan ada banyak perasaan cintaku didalamnya.”
“Apa kau sedang merayuku? Kenapa kau
gunakan omong kosongmu pada temanmu?! Ramen buatanmu memang lezat tapi kue
buatanmu itu racun!. Kau memesan ini di Chocolate Cake Bakery kan?.” Baekhee
terus saja memasukan potongan coklat kepada mulutnya.
“Eoh, bagaimana kau bisa tahu?”
“Pabo! Kemarin kau meminta nomor
restorannya padaku! Lagipula, aku hapal rasanya. Aku kan seorang chocolateholic.” Hyeri
menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar ejekan Baekhee.
“Membuat khusus? Kau bahkan tidak
pernah menyentuh mixer. Akulah yang paling pintar membuat kue diantara kalian.” Nayeon
menyanjung dirinya dengan pernyataan fakta.
“Kurasa kau terlalu frustasi pada
Jin sunbae sampai kau menjadi pabo. Ah, tidak. Pabo memang sifat aslimu.” Ujar
Hani lalu melanjutkan menyedot minumannya.
“Aku sudah berhasil dengan Taehyung.
Eottoke? Sepertinya misimu tidak akan berhasil.” Nayeon semakin membuat Hyeri
frustasi.
“Berhentilah mengejekku, Itu tidak
membantu. Ah, setidaknya aku mendapatkan nomornya kemarin.” Nada hyeri menjadi
memelas. Ia meletakan kepalanya dimeja kantin.
“Percuma saja kalau dia tidak pernah
membalas sms mu.”
“Berbicara langsung saja dia
menghiraukanmu, apalagi berbicara di handphone.”
“Hani-ya, Nayeon-ah, bukankah sudah
kubilang…, ITU TIDAK MEMBANTU!!!!” Hyeri mengangkat kepalanya, nada yang
awalnya memelas berubah menjadi suara monster membuat seisi kantin menatap
mereka.
“Arasseo, arasseo. Berhentilah
berteriak, kurasa kau butuh bantuan Baekhee.” Hani mencoba mencairkan suasana
hati Hyeri dengan sarannya.
“Eoh, kau benar. Sifat Jin Sunbae
kan sama sepertiku, jadi aku tau apa yang dirasakan Jin Sunbae terhadap rayuan
bullshitmu itu.”
“hahaha, tapi mana mungkin seorang
Yoon Hyeri si Mrs.Perfect yang pintar menyihir para namja mau meminta bantuan
kepada seorang Mrs.Cold Blood yang parah dalam hal cinta.” Nayeon tertawa
terbahak-bahak disaat teman-temannya terdiam membuat dirinya menjadi pusat
perhatian seisi kantin dan ketiga temannya.
“Jadi bagaimana, kau mau atau
tidak?” Tanya Hani
“Kalian tau apa jawabanku.” Jawab
hyeri kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga. Baekhee mengangkat tangannya
lalu menghitung dengan jarinya.
“Set, Dul, Hana..,” Entah kapan ia
berlari kembali tapi Hyeri sudah duduk didepan Baekhee dengan kedua tangan
menggenggam didepan wajah sambil mengatakan..
“Eonnie, Jebal.. save your sister’s
life from that Devil Prince. I promise I will give you everything you want if
you save me. My life in your hands now.” Hyeri merengek kepada Baekhee dengan
mata berkaca-kaca.
“Eonnie? Kau memang rubah. Saat kau
menginginkan sesuatu dariku kau memanggilku eonnie meskipun kau lebih tua
dariku.” Baekhee menghela nafasnya melihat perilaku Hyeri. Ia mulai menceramahi
Hyeri dengan ilmu pengetahuannya.
“Dengarkan aku baik-baik. Tidak
semua namja akan bertekuk lutut padamu karena kecantikanmu, karena itulah aku
mengatakan kalau semua namja yang menyukaimu itu namja bodoh. Ada beberapa
namja yang juga melihat dari hati. Yah, meskipun tidak terlalu banyak. Tipe
namja dingin seperti Jin Sunbae, ia tidak akan suka jika kau terus menggodanya.
Ia akan merasa jijik saat mendengar bullshitmu.”
“Go saem, itu namanya gombalan.”
Jelas Hyeri
“Dan aku menyebutnya bullshit!. Ia
akan sangat benci jika kau terus menempelinya seperti permen karet murahan yang
sangat lengket dan selalu diinjak-diinjak. Ia tidak akan pernah menyukaimu, tidak akan pernah!.
Karena ia hanya akan menganggapmu gadis murahan jalang penggoda para namja. Arasseo?!” Baekhee menjelaskan dengan penekanan
dibeberapa kata.
“Arasseo Go saem, tapi… bisakah kau
menggunakan kata-kata yang lebih halus? Karena yeoja yang kau bicarakan ini
sedang menahan amarahnya untuk tidak melayangkan sepatunya ke kepala seseorang
sekarang. Dan juga, hanya sekedar mengingatkan kalau yeoja itu lebih tua darimu
dan ia sedang dalam masa menstruasi saat ini.” Hyeri mengatakannya dengan mata
penuh amarah dan senyuman yang dipaksakan.
“Aigoo, Eonnieku yang cantik.. aku
tidak serius. Itu hanya kata kiasan.” Baekhee mencoba mencairkan amarah Hyeri
sebelum sebuah sepatu melayang ke kepalanya.
“Berhentilah mengkhotbahiku dan
langsung katakan intinya! Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Untuk seseorang yang keberhasilan
memikatnya mencapai 30% ke atas, semakin kau menjauhinya semakin ia mendekatimu.
Aku menggunakannya kepada Jungkook, dan kalian tau bagaimana hasilnya. Tapi,
untuk yeoja yang bahkan tidak mendekati 0% seperti dirimu, semakin kau
mendekatinya semakin dia menjauhimu. Kau harus mengganti semua rayuanmu dengan
rencana yang bisa membuatmu lebih dekat dengannya.”
“Maksudmu rencana mendekatkan diri
seperti yang aku lakukan?” tambah Nayeon
“Eoh, kau pintar sekali! Hyeri-ya,
kau harus selalu ada disampingnya disaat ia terpuruk. Kau harus menjadi
angelnya yang akan mengubah air matanya menjadi tawa indahnya. Ketika kau sudah
mencapai 50%, disaat itulah kau harus perlahan menjauhinya. Ia akan merasakan
keganjalan dalam hidupnya karena tidak adanya dirimu, and finally.. he will
looking for you. Tapi, sebelum itu.. kau harus membuat rencana pendekatan diri
dulu.” Baekhee menjetikan jarinya.
“Rencana pendekatan diri? Rencana
seperti apa yang kau maksud?”
“Baekhee-ya, kau memikirkan apa yang
kupikirkan kan?” Hani tersenyum kepada Baekhee. Mereka saling bertatapan mata
dengan tersenyum evil. Sementara Hyeri bingung melihat kedua temannya itu.
.
.
.
Sementara itu, di kantin VIP
terdapat dua insan sedang bermesraan di tengah sekelompok namja dan yeoja yang
sedang asik menyantap beef stick bersama. Ralat, satu insan yang mencoba
bermesraan.
“Oppa, milikku enak sekali!
Cobalah!” Eunbi mecoba menyuapi Jin dengan garpunya.
“Aku dan kau memiliki menu yang
sama. Bagaimana mungkin rasanya bisa berbeda?”
“Aniyo Oppa, rasanya memang berbeda.
Cobalah! Jebal, Bukalah mulutmu!” Eunbi tidak ada henti-hentinya merengek pada
Jin. Akhirnya Jin membuka mulutnya karena mengalah.
“Bagaimana? Lebih enak kan?”
“Rasanya sama saja.” Jin kembali
menyantap beef sticknya dengan Eunbi yang terus menatapnya. Mereka tidak merasa
kalau didepannya, seorang namja juga sedang menatap mereka dengan mata
berapi-api dan wajah kesal.
“Jimin-ah ada apa dengan wajahmu?”
“Sepertinya, aku tau kenapa.”
“Yoongi-ya, jawabannya ada di
sampingmu.” Yoongi langsung menoleh pada Jin yang duduk disampingnya.
Percakapan Yoongi, Hoseok, dan Namjoon tidak membuat Jimin mengalihkan
pandangannya. Sampai 4 yeoja berjalan melewati kantin VIP dan membuat Jimin
mengalihkan pandangannya pada seorang yeoja yang sedang menyedot milkshakenya.
“Hani-ya!” Jimin langsung berlari
menuruni tangga kantin. Aktivitas Jimin saat berada didepan Hani membuat mereka
menjadi pusat perhatian seisi kantin. Bagaimana tidak? Jimin langsung saja
memeluk erat Hani tanpa melihat keadaan sekitar dan keadaan Hani yang sedang
membeku membelalakan matanya.
“Hani-ya, akhirnya aku menemukanmu.
Aku mencarimu dari tadi.” Jimin melepaskan pelukannya.
“Wae? Kenapa kau mencariku?”
“Bogosippeo.” Ujar Jimin membuat
orang disekitarnya bingung termasuk Hani.
“Apa kau sakit?” Hani menyentuh dahi
Jimin.
“Apa maksudmu?” Jimin menurunkan
tangan Hani yang menempel di dahinya.
“Kita kan satu kelas. Kau lupa?.
Bagaimana mungkin kau merindukanku.?”
“Memangnya kenapa? Apa aku tidak
boleh merindukan teman sekelasku?”
“Bukan begitu tapi..,” Hani semakin
bingung akan tingkah laku Jimin.
“Ah! Sudahlah, kajja kita pergi.
Seseorang membuatku kesal disini. Lebih baik aku menghabiskan waktuku
denganmu.” Jimin menarik tangan Hani. Hani menoleh keatas kantin membuat ia
mengerti apa yang dilakukan Jimin.
“Annyeong..!!” Hyeri melambaikan
tangannya pada Hani yang pergi menjauh.
“Annyeong..!” Dua namja melambaikan
tangannya kepada Nayeon dan Baekhee, namun mereka hanya membalasnya dengan
senyum tipis lalu beranjak pergi meninggalkan Hyeri yang terpaku ditempatnya
menatap seseorang.
“Yak! tunggu aku!”
.
.
.
Jimin terus berjalan dengan tangan
yang menggenggam atau lebih tepatnya menarik tangan Hani. Hani hanya bisa
menatap punggung namja yang ada didepannya.
“Berhenti!” Hani tiba-tiba
menghentikan langkahnya membuat Jimin juga ikut berhenti. Jimin membalikan
badannya menghadap Hani lalu melepaskan tangannya.
“Wae?”
“Seharusnya aku yang bertanya
kenapa. Kenapa kau melakukan hal itu? Aku adalah teman yang sangat berguna
untukmu, iya kan.”
“Apa kau pikir aku sedang
memanfaatkanmu?”
“Kau memelukku dan mengatakan hal
manis dihadapan teman-temanmu agar membuat Eunbi marah. Memang apa lagi yang
kupikirkan?”
“Mianhae, aku sangat kesal tadi. Aku
ingin Eunbi merasakan apa yang aku rasakan.”
“Bagaimana mungkin ia akan merasakan
hal yang sama denganmu kalau ia tidak menyukaimu?!”
“Karena itulah!, aku akan membuatnya
sadar akan perasaannya sendiri. Aku akan membuatnya menyukaiku. Karena jika ia
terus menyukai Jin Hyung, perasaannya akan terluka. Dan perasaanku juga akan
terluka melihatnya.” Mata Jimin mulai memerah.
“Lalu bagaimana dengan perasaanku?
Tidak bisakah kau memikirkan sedikit perasaanku?!” Mata Hani mulai
berkaca-kaca.
“Mianhae, aku tau kau marah.. tapi
sebagai temanku aku berharap kau mau membantu temanmu ini.” Jimin memohon
dengan nada memelas.
“Apa menurutmu perasaanku padamu
hanya sekedar teman?”
“Jadi, kau.. benar-benar
menyukaiku?” Jimin sedikit terkejut. Hani tidak dapat membendung air matanya
lagi.
“Ne.., karena itulah aku mau
membantumu. Sama seperti kau ingin melihat yeoja yang kau sukai bahagia, aku
juga ingin namja yang ku sukai bahagia. Meskipun bahagiamu tidak bersamaku. Melihat
senyummu setiap hari sudah cukup bagiku. Baiklah, kau boleh melakukan apa saja
yang kau inginkan padaku.” Hani berjalan meninggalkan Jimin dengan tetes-tetes
air mata yang membahasi pipinya.
“Hani-ya!” Suara Jimin membuat Hani
menghentikan langkahnya dan menoleh pada si pemilik suara.
“Alangkah baiknya kalau yeoja yang
kusukai adalah kau.” Jimin menyunggingkan senyumannya.
“Kalau begitu, cobalah untuk
menyukaiku.” Hani membalas Jimin dengan air mata yang membasahi senyumannya. Ia
kemudian pergi meneruskan langkah kakinya meninggalkan Jimin yang masih terdiam
ditempatnya sambil menatapnya. Saat jaraknya mulai menjauh dari Jimin, ia
mengusap air matanya lalu menghembuskan nafasnya panjang sambil mengatakan…
“Daebak, aku sampai mengeluarkan
banyak air mata. Apa aku terlalu berlebihan?. Kurasa actingku lebih baik dari
Song Hye Kyo. Lee Hani memang Jjang.!!”
.To Be Continued ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar