Selasa, 12 September 2017

Dangerous Angel Part 4



Dangerous angels
Title : Dangerous angels
Author : Mrs. Me
Cast :
Ø Sana twice as lee hani
Ø  Momo twice as yoon hye ri
Ø Tzuyu twice as go baek hee
Ø Nayeon twice as im nayeon
Ø Choi Seong Guk As Bosley
Ø All member bts
Ø Shownu monsta x as ahn shownu
Ø All member gfriend
Genre : school life, romance, action


#PART 4
Empat yeoja sedang berdiri didepan pintu loker menunggu sesuatu. Beberapa namja datang dari arah lapangan basket. Seorang namja tinggi berambut coklat menghampiri lokernya dan membukanya.
“Sekarang, kalian akan melihat kehebatan seorang Yoon Hyeri.” Hyeri menghampiri sekumpulan namja itu.
“Oppa, bisakah aku meminjam handphonemu. Aku menghilangkan handphoneku dan tidak bisa menemukannya.” Hyeri mengeluarkan wajah bingung dan memelasnya. Jin langsung memberikan handphonenya tanpa berkata-kata. Hyeri menelfon handphonenya menggunakan handphone Jin.
“jeon jigeu bel bel bel..” suara terdengar dari balik tempat sampah. Hyeri memungut harta karunnya dari belakang tempat sampah.
“Gamsamhamnida Oppa.” Hyeri menyodorkan handphone Jin ke tangan pemiliknya.
“Oppa disana ada nomorku, banyak namja yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan nomorku. Jadi, tolong jangan memberikannya pada siapapun, ne?.”
“Wuuuu… daebak… kau beruntung hyung.” ujar kagum para namja disamping Jin serempak. Sedangkan Jin hanya menatap hyeri dengan tatapan datar. Jimin melirik Jin yang sedang mengotak atik handphonenya.
“Kenapa kau menghapusnya hyung?”
“Mwo? Kau menghapus nomorku?” hyeri terkejut mendengar pertanyaan Jimin.
“Kau bilang tidak ingin para namja memiliki nomormu kan. Jadi, aku hapus saja. Mereka bisa saja mengambil nomormu dari handphoneku.”
 “Para namja akan mencari seribu alasan untuk mendapatkan nomorku, namun aku selalu mengacuhkan mereka. Asal Oppa tau saja, sangat jarang seorang Yoon Hyeri memberikan nomornya pada namja. Tapi, karna kau sudah menolongku, jadi aku akan memberikanmu nomorku dengan gratis.” Ujar Hyeri dengan nada menggoda dan senyuman tersungging.
“Aku tidak butuh.” Balas Jin dingin tanpa melihat wajah Hyeri yang sudah seperti Hulk. Ketiga yeoja diujung sana sontak membuka mulutnya dan tertawa dengan keras melihat temannya untuk pertama kalinya dipermalukan seorang namja. Suara tawa mereka berhasil membuat para namja mengarahkan pandangannya pada mereka. Seorang namja imut langsung berjalan mendekati mereka dan menarik tangan Hani lalu menyeretnya pergi.
.
.
.Hani Pov. (Sana)
Jimin terus menyeret tanganku. Langkahnya terhenti ketika kita berada dibangku belakang sekolah. Dia menarik tanganku membuatku terduduk disampingnya. Kutatap tangan Jimin yang sedang menggenggam erat tanganku. Benar saja, dari tadi Jimin masih belum sama sekali melepas tanganku, apakah ia tidak menyadarinya atau memang sengaja?.
Mata Jimin mengikuti arah pandangku. Ia terkejut ketika mengetahui tangannya masih menggenggam tangan mungilku dan sontak ia melepasnya.
“Kenapa kau mengajakku kemari?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau berubah?”
“Aku sudah menjawabnya tadi dikelas. Kau lupa?”
“Kau tidak menjawabnya. Kau hanya bertanya bagaimana menurutku.”
“itulah jawabanku.” Jimin tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan intens
“Kau…. apa kau menyukaiku?” Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya.
“Kau tidak berubah karna ingin memikatku kan?! Apa kau menyukaiku karna akhir-akhir ini aku dekat dan sering menolongmu?. Jika memang seperti itu, berarti kau sudah salah paham. Kau tidak bisa menganggap hubungan pertemanan kita sebagai rasa saling suka.” Jimin terus menatapku dengan penuh penekanan.
“Kenapa kau diam saja? Jawab aku. Semua itu tidak benar kan?”
“Mollayo, aku sendiri juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” jawabku dengan enteng kemudian berlalu meninggalkan Jimin yang masih berdiri disana sambil menggerutu.
“Ahh! Sebenarnya dia menyukaiku atau tidak sih?!!” gerutu Jimin sambil mengacak rambutnya.
.
.
.
7 namja dan 6 yeoja sedang berkumpul di kantin VIP. Seorang namja merogoh sakunya berusaha mengambil handphone yang bergetar. Kemudian ia mengotak atik handphonenya.
From : Jinnie Hyung
Temui aku sekarang di arena wall climbing.
“Hyung aku harus pergi.” Ujar si namja pada para hyungnya yang duduk didepannya.
“Tahyung-ah odiga? Kau baru saja disini tapi sudah mau pergi.” Yu Na menatap taehyung dengan sedikit kecewa.
“Jin hyung menyuruhku untuk menemuinya. Aku pergi dulu Bye.” Taehyung kemudian lari meninggalkan teman-temannya dan seorang yeoja berwajah muram itu. Tak beberapa lama setelah taehyung pergi, seorang namja datang ikut berkumpul dengan mereka.
“Jin? Mana taehyung.” Yoongi celingukan mencari taehyung dibelakang Jin.
“Molla, kenapa bertanya padaku. Memang aku ibunya?”
“Taehyung bilang tadi ia pergi menemuimu.” Jelas Hoseok
“Daritadi aku ada di ruang music.”
“Lalu, taehyung kemana?” wajah Yuna menjadi khawatir.
“Tenanglah, tidak akan ada orang yang mau menculiknya. Ia mungkin hanya ingin bolos di suatu tempat.” Ujar namjoon enteng kemudian memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.
.
.
.
Taehyung celingukan mencari seorang namja tinggi berambut coklat, tapi nihil! Ia tidak menemukan sosoknya sama sekali. Taehyung mendengus kesal tanda frustasi. Ia berencana untuk kembali ke sekolah namun, langkahnya terhenti oleh sesosok yeoja yang sedang melakukan aksi wall climbing. Mulutnya sedikit menganga melihatnya.
“Wahh yeoja itu berani sekali!” decaknya terkagum-kagum.
“Yak tunggu dulu! Ya ya ya…” Taehyung sontak segera berlari mendekati dinding ketika melihat yeoja itu tiba-tiba pingsan lalu terlepas dari pegangannya dan terjatuh. Alhasil, untung saja yeoja itu jatuh tepat ke tangkapan tangan taehyung.
“Yak! ireona..!”Taehyung mengguncang – guncang tubuh mungil si yeoja. Gerakan Taehyung terhenti. Matanya terfokus pada wajah yeoja yang sedang tertutupi oleh beberapa helai rambut. Taehyung menyibak helai rambut itu dengan pelan. Matanya semakin terpukau melihat wajah cantik yeoja itu. Tapi, bukan hanya cantik yang ada dipikiran taehyung.
“Yeoppeuda. Tapi, wajahnya familiar.  Siapa kau sebenarnya??” Tatapan taehyung semakin lekat
.
.
.Yeoja Pov.
Kubuka mataku perlahan. Kulihat ruangan bercat putih. Tampak sosok tampan berada didepanku sedang menatap lekat wajahku. Kubangunkan diriku perlahan lalu duduk bersandar dibantal belakangku.
“Aku bukan yeoja bodoh, jadi aku tidak akan bertanya dimana aku sekarang. Aku juga bukan yeoja kuper, jadi aku tidak akan bertanya kau siapa. So, yang aku tanyakan adalah.. kenapa kau bisa ada disini?”
“Kau terlalu banyak bicara untuk seorang yeoja yang baru saja sadar dari pingsannya. Tapi, karena aku namja yang baik hati jadi, yang aku tanyakan adalah.. Gwenchana??”
“Gwenchanayo, dan juga… gomawo karna kau sudah menolongku dan menggendongku ke UKS.” Kulihat ekspresi taehyung berubah menjadi bingung.
“Daebak! Mungkin sudah jelas sekali kalau aku yang menolongmu, tapi aku tidak mengatakan kalau aku yang menggendongmu ke UKS. Bagaimana kau bisa tau? Apa kau punya indra keenam?” entah kenapa aku merasa iba melihat taehyung, ia masih muda dan tampan tapi otaknya sudah rusak.
“hufh.. bukannya sudah kubilang aku bukan yeoja bodoh.” Kuhela nafasku pelan. Aku terkejut ketika ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya kearahku membuatku sontak memundurkan wajahku. Matanya terfokus pada wajahku yang berjarak 5 centi dari wajahnya.
“Yak, apa yang kau lakukan?” kulontarkan kalimatku dengan tubuh yang mulai membeku.
“kau imut sekali, wajahmu familiar. Rasanya aku pernah bertemu denganmu, tapi dimana ya?” wajahku sangat dekat dengan wajahnya membuatku semakin membeku, kutatap mata taehyung yang sepertinya sudah tenggelam dalam tatapanku. Aku dan taehyung terus bertatapan sampai benda bergetar di saku taehyung membuatku tersadar.
“Wajahmu terlalu dekat!” kudorong tubuhnya kebelakang. Ia mengambil ponsel di sakunya lalu mengotak-atiknya.
“Aku harus pergi sekarang, cepat sembuh.” Taehyung menampakan senyumannya lalu mengelus puncak kepalaku sebelum ia beranjak pergi. Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh tingkahnya.
“Bytheway, Siapa namamu?” taehyung berhenti tepat didepan pintu dan menoleh kepadaku.
“namaku… Im Nayeon.”
.
.
.
“Annyeong!” ujar seorang namja yang sedang bersandar dipintu dan melambaikan tangannya. Yeoja yang disapa hanya diam lalu melangkah mencoba pergi sebelum jungkook kemudian menarik tangannya.
“kau sudah 2 kali menghilang dari hadapanku, kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Yeoja itu memasang wajah bingung. Jungkook kemudian memusatkan matanya di nametag yang terpasang dirompi yeoja itu.
“Go.. Baek.. Hee.. . Jadi, itu namamu.” Baekhee terus saja membungkam mulutnya.
“Yak! kau tidak bisu kan?! Kenapa kau suka sekali menghiraukanku?! Aish, sudahlah. Kau juga tidak akan menjawab pertanyaanku. Biarkan aku saja yang memperkenalkan diriku sendiri. Je iremeun Jeon…”
“Arasseo! kau tidak perlu memberitahuku.” Potong baekhee dengan nada kesal.
“Akhirnya, kau bicara juga. Aku tidak mau kau pergi jadi apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tetap disini?” Baekhee langsung mengalihkan pandangannya dan tersenyum evil. Sebuah ide terlintas dibenaknya.
“Sepertinya ini hal yang menguntungkan. Aku harus memanfaatkannya.”
“kalau begitu,.. belikan aku makanan dan minuman. Aku lapar sekali setelah dance, dan juga belikan aku permen lollipop.” Pinta baekhee dengan wajah angkuhnya. Tanpa basa basi jungkook langsung berlari dengan cepat membuat baekhee mengangakan mulutnya.
“apa dia sangat menyukaiku? Bagaimana mungkin dia sudah sangat menyukaiku hanya dengan 3 kali pertemuan singkat? Namja aneh.” Gerutu baekhee.
Selang sekitar 15 menit, seorang namja datang memasuki pintu. Mata baekhee menjadi berbinar-binar, tapi bukan karena melihat si namja melainkan melihat beberapa bungkusan yang dibawanya. Jungkook duduk didepan baekhee sambil mengeluarkan makanan dan minuman dari keresek. Tanpa berpikir panjang baekhee langsung membuka plastik mangkuk jjanmyeon lalu memakannya. Jungkook terkejut melihat tingkahnya.
“Apa ada seseorang yang akan mencuri makananmu? makanlah dengan perlahan!. Makanmu bahkan lebih cepat dari namja.”jungkook sedikit tersenyum melihat cara makannya.
“Saat kelaparan aku memang seperti ini. Berhentilah tersenyum! Kau meledekku karena cara makanku aneh kan.”
“aku berpikir kalau cara makanmu lebih ke unik daripada ke aneh. Sepertinya hanya kaulah satu-satunya yeoja cantik yang makan seperti ini. Kau pasti bisa memenangkan lomba makan jjanmyeon.”
“Berhentilah merayuku! Ah.. aku masih lapar.” Baekhee mengelus-elus perut datarnya.
“kajja! Ikut aku!” jungkook menarik tangan baekhee pergi meninggalkan ruangan dance.
.
.
.
3 orang yeoja sedang berkumpul di kamar asrama. Nayeon sedang memainkan laptopnya, hyeri sedang menonton tv, dan hani sedang membaca novel. Hyeri melirik jam dinding yang menunjukan pukul 8 malam. Wajahnya menjadi sedikit bingung.
“sebenarnya kemana dia pergi? Kenapa sampai sekarang belum pulang?.” Tanya hyeri tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
“tenanglah, dia bisa menjaga dirinya sendiri.” Jawab hani masih dengan fokusnya membaca novel.
“Terakhir kali aku melihatnya dia bilang akan pergi ke ruangan dance. Mustahil kalau dia akan menari sampai sekarang. Kecuali, dia adalah seorang robot.”  Nayeon tetap terfokus ke laptopnya. Mereka mengobrol tanpa mengalihkan perhatian pada kegiatan mereka masing-masing.
“Dia bukan robot tapi seorang vampire. Kau tau kan betapa dinginnya dia kepada para namja. Mungkin sekarang dia sedang mencari mangsa. Kalau kau begitu khawatir suruh saja nayeon melacaknya, dia memakai kalungnya kan.”
“Oke hani, aku akan melacaknya. Aku juga penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang.” nayeon terus mengotak-atik laptonya. Tiba-tiba ia membelalakan matanya.
“Mwoya!!” teriak nayeon yang tidak digubris teman-temannya.
“Yak! apa kalian tau apa yang ia lakukan?!”
 “Apa kau melihatnya diatap asrama?. Tenanglah, ia disana hanya untuk menyegarkan pikiran bukan untuk bunuh diri.” Ujar hyeri enteng sambil memencet tombol ganti pada remote.
“Nayeon-ah, berhentilah berteriak dan bertingkah berlebihan. Memangnya apa yang dilakukannya?” ujar hani yang mencoba terus terfokus ke novelnya.
“Dia sedang…… KENCAN!” nayeon berhasil membuyarkan fokus hani dan hyeri. Mereka langsung menatap nayeon dengan wajah terkejut lalu berlari menghampiri nayeon. Hyeri membaca sebuah tulisan yang ada di laptop nayeon.
“ Rainbow Love Ice Land? Daebak!”
“Jadi, dia benar-benar sedang kencan? Cepat sekali. Wah!” Hani tidak bisa mengatupkan mulutnya yang menganga.
“Bukannya dia paling benci saat diberi tugas merayu namja?. Hmm.. kekuatan seseorang yang berambisi memang sangat besar. Eotteoke, hyeri-ya? Sepertinya kau akan kalah dengannya.” Nayeon memberikan senyum mengejeknya kepada hyeri.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain seorang yeoja duduk dibangku kafe sedang asik menikmati ice creamnya sampai-sampai tidak merasa kalau namja didepannya sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh arti.
“Aigoo, apa kau benar-benar seorang yeoja?”
“Kenapa? Apa aku berbeda?”
“Sangat! Kita sudah pergi makan jjanmyeon, tteokboki, burger, sandwich, dan sekarang ice cream. Apa menurutmu ada yeoja yang makan semua itu hanya dalam waktu 5 jam?”
“Ada! Yeoja didepanmu contohnya.” Ujar Baekhee sambil memasukan sendok kemulutnya.
“Yah dan kau juga satu-satunya. Bagaimana kau masih bisa tetap kurus?”
“Meskipun terkadang makanku banyak, tapi aku tetap kurus dan perutku tetap kecil. Bukankah itu hebat?” baekhee tersenyum bangga, sedangkan namja didepannya hanya menghela nafas.
“Apanya yang hebat?! Itu penyakit! Pasti cacing diperutmu jumlahnya sangat banyak.”
“Mwo?! Yak! kau mengejekku sekarang?”
“Menurutmu itu pujian?” ucapan jungkook berhasil membuat wajah baekhee berubah kesal, tapi ia menahan untuk mengeluarkan tinjunya.
“Tapi…, kenapa kau mengajakku makan ice cream disini? Ini kan tempat hanya untuk kencan.” Baekhee memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan untuk menurunkan amarahnya.
“Menurutmu kita sedang apa sekarang? Kita kan memang sedang kencan.”
“Heol, aku memintamu untuk membelikanku makanan bukan untuk mengajakku kencan.” Mendengar baekhee jungkook langsung memajukan wajahnya sambil berpangku tangan. Ia memasang senyuman dibibir tipisnya membuat wajahnya terlihat sangat tampan.
“Tidak ada bedanya dengan sekarang kan. Kita sudah seharian berkeliling, bersenang-senang dan makan bersama. Yang kita lakukan ini termasuk kencan.” Jungkook terus menunjukan wajah tampannya membuat mata baekhee sdikit terpukau.
“Bukan kencan namanya jika yang menganggapnya hanya satu pihak. Dan juga, bagaimana kau bisa langsung berkencan dengan yeoja yang baru saja kau kenal?”
“Wae? Yang istimewa itu kan memang cinta pada pandangan pertama.” Jungkook heran ketika baekhee tiba-tiba menatapnya dengan tatapan intens.
“Jujurlah padaku!. Kau ini seorang playboy kan?”
“Aish! Kenapa para yeoja selalu menanyakan itu!. Mereka marah saat aku menjawab iya dan tidak percaya saat aku menjawab tidak.” Wajah tampan jungkook berubah menjadi kesal.
“Para yeoja? Aigoo, ternyata benar kau memang seorang playboy.”
“Terserah kau saja lah, aku menyerah.”
.
.
.
Seorang yeoja baru saja masuk ke kamar asrama dan sudah dibanjiri oleh pertanyaan dari ketiga sahabatnya.
“Bagaimana kencanmu? Apa kencanmu sukses?” - Nayeon
“Kau pergi kemana saja dengannya? Apa saja yang kalian lakukan?” - Hani
“Bagaimana kau bisa langsung berkencan dengannya? Bagaimana caramu merayunya?” - Hyeri
Sementara yeoja yang ditanyai hanya diam membisu dengan memasang wajah terkejut. Baekhee kemudian menghela nafasnya panjang dan berjalan menuju ranjang empuknya.
“Apa kalian sedang berusaha menjadi wartawan?” ujar baekhee dengan nada kesal.
“Chukkae, kau sudah menang Go Baekhee.” Hani memberikan applause kepada baekhee.
“kau sangat jjang! Tapi tetap saja kau tidak lebih hebat dariku.”
“Kau benar hyeri-ya. Baekhee-ya, kau menang saat ini tapi kau bisa saja nanti kalah. Bagaimana jika nanti kau yang akan lebih dulu benar-benar menyukai jungkook?”
“Kurasa yang harus kau khawatirkan tentang hal itu adalah dirimu sendiri Nayeon-ah.”
“Tenang saja, Taehyung terlalu bodoh untuk namja yang bisa aku sukai.”
“oettkeo.. naega..” suara music terdengar dari handphone nayeon. Ia meraih handphone nya lalu pergi keluar menghiraukan teman-temannya yang masih asik berdebat.
.
.
.
Seorang namja sedang terduduk santai di kursi lobi sambil memutar-mutarkan handphonenya.
“Katakan apa yang kau inginkan!” pinta nayeon dengan nada malas yang kemudian duduk di kursi di depan taehyung.
“Sekarang aku tau siapa dirimu.!” Ujar taehyung dengan semangat yang membara.
“tentu saja kau tau. Aku sudah memberitahumu kalau namaku Im Nayeon.” Masih dengan nada malas khas nayeon.
“Bukan itu maksudku. Kau si gadis laundry kan?!. Kau adalah yeoja imut yang kutemui di ruang laundry, kau ingat?”
“yeoja imut?, baiklah aku memang imut tapi, gadis laundry? Tidakkah kau memiliki nama yang lebih baik? Yeojachingu-mu contohnya.”  Kalimat nayeon membuat wajah taehyung berubah menjadi semerah tomat. Tapi seorang taehyung tidak akan kalah begitu saja.
“yeojachingu-ku? Hmm tidak buruk. Kalau begitu, bisakah aku menciummu sekarang juga?” sekarang wajah nayeon yang berubah menjadi tomat dan sangat tegang.
“Wae? Kau sendiri kan yang memintaku memanggilmu yeojachingu-ku. Jadi, aku boleh menciummu kan. Kenapa wajahmu sangat tegang?” tambah taehyung membuat nayeon membelalakan matanya.
“ma.. mak.. maksutku, ha.. hanya chingu.. Hanya chingu!” nayeon berusaha mengelak.
“Omo! Kenapa sekarang kau jadi gadis gagap? Kau malu ya. Aigoo, kau menjadi semakin imut. Pasti akan menjadi lebih imut lagi jika aku menunjukanmu itu.” Taehyung semakin senang menggoda nayeon, dia terus saja tersenyum.
“itu? Itu apa?”
“itu adalah momen luar biasamu, dan hanya aku saja yang memilikinya.” Taehyung semakin menyunggingkan senyuman jailnya. Sementar nayeon bingung dengan apa yang dimaksud taehyung. Taehyung kemudian memperlihatkan foto yang ada dihandphonenya.
“Yak! berikan padaku!” nayeon langsung meraih handphone taehyung, namun taehyung dengan sigap menjauhkan handphonenya dari jangkauan tangan mungil nayeon.
“Apa kau pikir aku akan begitu saja menyerahkannya padamu nona Im?” taehyung menunjukan senyum evilnya.
“Ah! Bagaimana kau bisa memilikinya?! Jebal! Hapuslah.” Nayeon memohon kepada taehyung dengan nada memelas dan merengek.
“Aigoo, imutnya.!! Baiklah, aku akan menghapusnya asalkan dengan satu syarat. Kau harus meluangkan waktumu besok.”
“Meluangkan waktu untuk apa? Apa besok hari ulang tahunmu?”
“Bukan hari ulang tahun, tapi mungkin akan menjadi hari jadi kita.” Taehyung tersenyum disaat nayeon membelalakan matanya.
“Mwo?! Apa maksudmu? Apa besok kita akan ber…-”
“Eoh!! Kau benar, besok kita akan berkencan. Jadi, persiapkan mentalmu dan berdandanlah yang cantik. Arachi?! Anyyeong yeojachingu-ku.” potong taehyung yang kemudian mengelus puncak kepala nayeon lalu berlalu pergi tanpa mau mendengar jawaban nayeon. Nayeon hanya terpaku ditempatnya.
“Persiapkan mental?? Memangnya kita akan kencan atau akan uji nyali?” gerutu nayeon sambil meratapi punggung taehyung yang semakin menjauh.
.
.
.
 Seorang yeoja berjalan dikoridor sambil membawa kotak berwarna pink. Ia menghentikan langkah kakinya saat berada tepat didepan seorang namja yang baru saja keluar dari kelas.
“Jin Oppa, aku membawakan coklat untukmu. Ini sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah menolongku kemarin. Kuharap kau mau menghabiskannya karena ada banyak cinta didalam coklat ini.” hyeri menyodorkan kotak pink itu kepada Jin sambil memperlihatkan senyum cantiknya.
“Aku tidak suka coklat.” Ujar Jin dengan dingin sambil mencoba pergi sebelum Hyeri menarik tangannya.
“Tapi Oppa, aku sudah bersusah payah membuat coklat ini untukmu. Aku sudah menaruh seluruh perasaanku padamu didalam coklat ini.” Hyeri terus mencoba merayu Jin dengan senyumannya bahkan ia mengedip-ngedipkan kedua mata indahnya.
“Apa kau tuli?! Dia bilang tidak suka coklat!” bentak Eunbi yang datang entah darimana
“Jika aku menerimanya pasti juga teman-temanku yang akan memakannya. Jadi, percuma saja kan. Lebih baik kau makan sendiri saja.”
“Abaikan saja yeoja gila ini Oppa! Kajja kita kita ke kantin.” Eunbi menarik lengan Jin lalu pergi berlalu menghiraukan ucapan Hyeri.
“Tapi Oppa.!!..” Hyeri menghentikan kalimatnya karena hanya tersisa aroma Jin didepannya.
.
.
.
Tiga yeoja sedang mengobrol bersama dengan santai di kantin sekolah. Mereka bertiga seketika bungkam saat seorang yeoja datang dan membanting kotak pink didepan mereka.
“Yak!! Apa dia seorang namja?! Memang ada namja seperti dia?! Dasar namja pabo! Tidak berhormon! Dia pasti seorang gay! Aku yakin sekali! Dan juga, dasar yeoja jalang!” Hyeri datang dengan marah-marah membuat ketiga temannya menatapnya heran.
“Wae? Dia mengabaikanmu lagi?” Tanya Hani sambil menyedot milkshakenya. Baekhee membuka kotak pink itu.
“Wah.. Coklat..” mata baekhee menjadi berbinar-binar. Ia mengambil sepotong coklat lalu memasukannya ke mulut kecilnya.
“Yak! jangan memakannya! Itu coklat yang kubuat khusus dan ada banyak perasaan cintaku didalamnya.”
“Apa kau sedang merayuku? Kenapa kau gunakan omong kosongmu pada temanmu?! Ramen buatanmu memang lezat tapi kue buatanmu itu racun!. Kau memesan ini di Chocolate Cake Bakery kan?.” Baekhee terus saja memasukan potongan coklat kepada mulutnya.
“Eoh, bagaimana kau bisa tahu?”
“Pabo! Kemarin kau meminta nomor restorannya padaku! Lagipula, aku hapal rasanya. Aku kan  seorang chocolateholic.” Hyeri menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar ejekan Baekhee.
“Membuat khusus? Kau bahkan tidak pernah menyentuh mixer. Akulah yang paling pintar  membuat kue diantara kalian.” Nayeon menyanjung dirinya dengan pernyataan fakta.
“Kurasa kau terlalu frustasi pada Jin sunbae sampai kau menjadi pabo. Ah, tidak. Pabo memang sifat aslimu.” Ujar Hani lalu melanjutkan menyedot minumannya.
“Aku sudah berhasil dengan Taehyung. Eottoke? Sepertinya misimu tidak akan berhasil.” Nayeon semakin membuat Hyeri frustasi.
“Berhentilah mengejekku, Itu tidak membantu. Ah, setidaknya aku mendapatkan nomornya kemarin.” Nada hyeri menjadi memelas. Ia meletakan kepalanya dimeja kantin.
“Percuma saja kalau dia tidak pernah membalas sms mu.”
“Berbicara langsung saja dia menghiraukanmu, apalagi berbicara di handphone.”
“Hani-ya, Nayeon-ah, bukankah sudah kubilang…, ITU TIDAK MEMBANTU!!!!” Hyeri mengangkat kepalanya, nada yang awalnya memelas berubah menjadi suara monster membuat seisi kantin menatap mereka.
“Arasseo, arasseo. Berhentilah berteriak, kurasa kau butuh bantuan Baekhee.” Hani mencoba mencairkan suasana hati Hyeri dengan sarannya.
“Eoh, kau benar. Sifat Jin Sunbae kan sama sepertiku, jadi aku tau apa yang dirasakan Jin Sunbae terhadap rayuan bullshitmu itu.”
“hahaha, tapi mana mungkin seorang Yoon Hyeri si Mrs.Perfect yang pintar menyihir para namja mau meminta bantuan kepada seorang Mrs.Cold Blood yang parah dalam hal cinta.” Nayeon tertawa terbahak-bahak disaat teman-temannya terdiam membuat dirinya menjadi pusat perhatian seisi kantin dan ketiga temannya.
“Jadi bagaimana, kau mau atau tidak?” Tanya Hani
“Kalian tau apa jawabanku.” Jawab hyeri kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga. Baekhee mengangkat tangannya lalu menghitung dengan jarinya.
“Set, Dul, Hana..,” Entah kapan ia berlari kembali tapi Hyeri sudah duduk didepan Baekhee dengan kedua tangan menggenggam didepan wajah sambil mengatakan..
“Eonnie, Jebal.. save your sister’s life from that Devil Prince. I promise I will give you everything you want if you save me. My life in your hands now.” Hyeri merengek kepada Baekhee dengan mata berkaca-kaca.
“Eonnie? Kau memang rubah. Saat kau menginginkan sesuatu dariku kau memanggilku eonnie meskipun kau lebih tua dariku.” Baekhee menghela nafasnya melihat perilaku Hyeri. Ia mulai menceramahi Hyeri dengan ilmu pengetahuannya.
“Dengarkan aku baik-baik. Tidak semua namja akan bertekuk lutut padamu karena kecantikanmu, karena itulah aku mengatakan kalau semua namja yang menyukaimu itu namja bodoh. Ada beberapa namja yang juga melihat dari hati. Yah, meskipun tidak terlalu banyak. Tipe namja dingin seperti Jin Sunbae, ia tidak akan suka jika kau terus menggodanya. Ia akan merasa jijik saat mendengar bullshitmu.”
“Go saem, itu namanya gombalan.” Jelas Hyeri
“Dan aku menyebutnya bullshit!. Ia akan sangat benci jika kau terus menempelinya seperti permen karet murahan yang sangat lengket dan selalu diinjak-diinjak. Ia tidak akan pernah menyukaimu, tidak akan pernah!. Karena ia hanya akan menganggapmu gadis murahan jalang penggoda para namja. Arasseo?!” Baekhee menjelaskan dengan penekanan dibeberapa kata.
“Arasseo Go saem, tapi… bisakah kau menggunakan kata-kata yang lebih halus? Karena yeoja yang kau bicarakan ini sedang menahan amarahnya untuk tidak melayangkan sepatunya ke kepala seseorang sekarang. Dan juga, hanya sekedar mengingatkan kalau yeoja itu lebih tua darimu dan ia sedang dalam masa menstruasi saat ini.” Hyeri mengatakannya dengan mata penuh amarah dan senyuman yang dipaksakan.
“Aigoo, Eonnieku yang cantik.. aku tidak serius. Itu hanya kata kiasan.” Baekhee mencoba mencairkan amarah Hyeri sebelum sebuah sepatu melayang ke kepalanya.
“Berhentilah mengkhotbahiku dan langsung katakan intinya! Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Untuk seseorang yang keberhasilan memikatnya mencapai 30% ke atas, semakin kau menjauhinya semakin ia mendekatimu. Aku menggunakannya kepada Jungkook, dan kalian tau bagaimana hasilnya. Tapi, untuk yeoja yang bahkan tidak mendekati 0% seperti dirimu, semakin kau mendekatinya semakin dia menjauhimu. Kau harus mengganti semua rayuanmu dengan rencana yang bisa membuatmu lebih dekat dengannya.”
“Maksudmu rencana mendekatkan diri seperti yang aku lakukan?” tambah Nayeon
“Eoh, kau pintar sekali! Hyeri-ya, kau harus selalu ada disampingnya disaat ia terpuruk. Kau harus menjadi angelnya yang akan mengubah air matanya menjadi tawa indahnya. Ketika kau sudah mencapai 50%, disaat itulah kau harus perlahan menjauhinya. Ia akan merasakan keganjalan dalam hidupnya karena tidak adanya dirimu, and finally.. he will looking for you. Tapi, sebelum itu.. kau harus membuat rencana pendekatan diri dulu.” Baekhee menjetikan jarinya.
“Rencana pendekatan diri? Rencana seperti apa yang kau maksud?”
“Baekhee-ya, kau memikirkan apa yang kupikirkan kan?” Hani tersenyum kepada Baekhee. Mereka saling bertatapan mata dengan tersenyum evil. Sementara Hyeri bingung melihat kedua temannya itu.
.
.
.
Sementara itu, di kantin VIP terdapat dua insan sedang bermesraan di tengah sekelompok namja dan yeoja yang sedang asik menyantap beef stick bersama. Ralat, satu insan yang mencoba bermesraan.
“Oppa, milikku enak sekali! Cobalah!” Eunbi mecoba menyuapi Jin dengan garpunya.
“Aku dan kau memiliki menu yang sama. Bagaimana mungkin rasanya bisa berbeda?”
“Aniyo Oppa, rasanya memang berbeda. Cobalah! Jebal, Bukalah mulutmu!” Eunbi tidak ada henti-hentinya merengek pada Jin. Akhirnya Jin membuka mulutnya karena mengalah.
“Bagaimana? Lebih enak kan?”
“Rasanya sama saja.” Jin kembali menyantap beef sticknya dengan Eunbi yang terus menatapnya. Mereka tidak merasa kalau didepannya, seorang namja juga sedang menatap mereka dengan mata berapi-api dan wajah kesal.
“Jimin-ah ada apa dengan wajahmu?”
“Sepertinya, aku tau kenapa.”
“Yoongi-ya, jawabannya ada di sampingmu.” Yoongi langsung menoleh pada Jin yang duduk disampingnya. Percakapan Yoongi, Hoseok, dan Namjoon tidak membuat Jimin mengalihkan pandangannya. Sampai 4 yeoja berjalan melewati kantin VIP dan membuat Jimin mengalihkan pandangannya pada seorang yeoja yang sedang menyedot milkshakenya.
“Hani-ya!” Jimin langsung berlari menuruni tangga kantin. Aktivitas Jimin saat berada didepan Hani membuat mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin. Bagaimana tidak? Jimin langsung saja memeluk erat Hani tanpa melihat keadaan sekitar dan keadaan Hani yang sedang membeku membelalakan matanya.
“Hani-ya, akhirnya aku menemukanmu. Aku mencarimu dari tadi.” Jimin melepaskan pelukannya.
“Wae? Kenapa kau mencariku?”
“Bogosippeo.” Ujar Jimin membuat orang disekitarnya bingung termasuk Hani.
“Apa kau sakit?” Hani menyentuh dahi Jimin.
“Apa maksudmu?” Jimin menurunkan tangan Hani yang menempel di dahinya.
“Kita kan satu kelas. Kau lupa?. Bagaimana mungkin kau merindukanku.?”
“Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh merindukan teman sekelasku?”
“Bukan begitu tapi..,” Hani semakin bingung akan tingkah laku Jimin.
“Ah! Sudahlah, kajja kita pergi. Seseorang membuatku kesal disini. Lebih baik aku menghabiskan waktuku denganmu.” Jimin menarik tangan Hani. Hani menoleh keatas kantin membuat ia mengerti apa yang dilakukan Jimin.
“Annyeong..!!” Hyeri melambaikan tangannya pada Hani yang pergi menjauh.
“Annyeong..!” Dua namja melambaikan tangannya kepada Nayeon dan Baekhee, namun mereka hanya membalasnya dengan senyum tipis lalu beranjak pergi meninggalkan Hyeri yang terpaku ditempatnya menatap seseorang.
“Yak! tunggu aku!”
.
.
.
Jimin terus berjalan dengan tangan yang menggenggam atau lebih tepatnya menarik tangan Hani. Hani hanya bisa menatap punggung namja yang ada didepannya.
“Berhenti!” Hani tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Jimin juga ikut berhenti. Jimin membalikan badannya menghadap Hani lalu melepaskan tangannya.
“Wae?”
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa. Kenapa kau melakukan hal itu? Aku adalah teman yang sangat berguna untukmu, iya kan.”
“Apa kau pikir aku sedang memanfaatkanmu?”
“Kau memelukku dan mengatakan hal manis dihadapan teman-temanmu agar membuat Eunbi marah. Memang apa lagi yang kupikirkan?”
“Mianhae, aku sangat kesal tadi. Aku ingin Eunbi merasakan apa yang aku rasakan.”
“Bagaimana mungkin ia akan merasakan hal yang sama denganmu kalau ia tidak menyukaimu?!”
“Karena itulah!, aku akan membuatnya sadar akan perasaannya sendiri. Aku akan membuatnya menyukaiku. Karena jika ia terus menyukai Jin Hyung, perasaannya akan terluka. Dan perasaanku juga akan terluka melihatnya.” Mata Jimin mulai memerah.
“Lalu bagaimana dengan perasaanku? Tidak bisakah kau memikirkan sedikit perasaanku?!” Mata Hani mulai berkaca-kaca.
“Mianhae, aku tau kau marah.. tapi sebagai temanku aku berharap kau mau membantu temanmu ini.” Jimin memohon dengan nada memelas.
“Apa menurutmu perasaanku padamu hanya sekedar teman?”
“Jadi, kau.. benar-benar menyukaiku?” Jimin sedikit terkejut. Hani tidak dapat membendung air matanya lagi.
“Ne.., karena itulah aku mau membantumu. Sama seperti kau ingin melihat yeoja yang kau sukai bahagia, aku juga ingin namja yang ku sukai bahagia. Meskipun bahagiamu tidak bersamaku. Melihat senyummu setiap hari sudah cukup bagiku. Baiklah, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan padaku.” Hani berjalan meninggalkan Jimin dengan tetes-tetes air mata yang membahasi pipinya.
“Hani-ya!” Suara Jimin membuat Hani menghentikan langkahnya dan menoleh pada si pemilik suara.
“Alangkah baiknya kalau yeoja yang kusukai adalah kau.” Jimin menyunggingkan senyumannya.
“Kalau begitu, cobalah untuk menyukaiku.” Hani membalas Jimin dengan air mata yang membasahi senyumannya. Ia kemudian pergi meneruskan langkah kakinya meninggalkan Jimin yang masih terdiam ditempatnya sambil menatapnya. Saat jaraknya mulai menjauh dari Jimin, ia mengusap air matanya lalu menghembuskan nafasnya panjang sambil mengatakan…
“Daebak, aku sampai mengeluarkan banyak air mata. Apa aku terlalu berlebihan?. Kurasa actingku lebih baik dari Song Hye Kyo. Lee Hani memang Jjang.!!”

.To Be Continued  ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar