Rabu, 29 Maret 2017

My Sad And Sweet Valentine



My Sad & Sweet Valentine

Title : My Sad & Sweet Valentine (OneShoot)
Author : Mrs. Me
Cast : Jeon Jungkook  (BTS) – Go Baekhee (OC)
Support Cast : Kim Taehyung (BTS), Yuri (SNSD), Seolhyun (AOA), Jihyo (Twice).
Genre : Romance

Annyeong readers! Mrs.Me is back. Mrs.Me sengaja buat FF ini untuk merayakan hari Valentine. Ciee, padahal Mrs.Me sendiri masih single. Biarpun single, yang penting hati udah ada yang punya. Bukannya valentine udah lewat? yah emang. Awalnya sih, mau dipublish tanggal 14 tapi karena kesibukan jadwal Mrs.Me akhirnya publishnya telat. Okay, sorry for typo and, Happy Reading..!!

14 Februari, hari yang paling bahagia bagi para pasangan, khususnya bagi pasangan muda. 14 Februari adalah Hari Valentine dimana semua orang saling menyatakan dan menunjukan seberapa besar rasa cintanya kepada pasangannya. Para pasangan merayakan hari valentine dengan memberi coklat, bunga dan lainnya. Benda-benda itulah yang melambangkan seberapa besar cinta mereka. Sepertinya, besok kota Seoul akan diramaikan oleh para pasangan. Termasuk, aku!.
kuberi tanda love disekeliling huruf 14 dengan spidol merah. Aku senang sekali karena besok adalah hari valentine. Akhirnya aku bisa bertemu dengan kekasihku setelah seminggu tidak bertemu. Yah, kekasihku Jungkook adalah seorang member boyband internasional. Karena kesibukannya aku jarang sekali bertemu dengannya. Pada hari valentine besok, akan ada pesta kembang api di taman kota seoul. Meskipun aku tidak bisa berkencan ditaman dengannya, setidaknya aku bisa melihat kembang api itu di tempat favorit kita.
Kuamati terus handphoneku. Hal yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Kuputar-putar jari telunjukku kearah handphone sembari merapalkan beberapa mantra.
“Berderinglah, berderinglah, berderinglah.” Aku mencoba bersabar menunggu telpon dari kelinci kesayanganku.
“Apa dia sedang lelah dan tertidur? Tapi dia kan sudah berjanji akan menelponku setelah konsernya di L.A. berakhir. Ini juga sudah 2 hari sejak dia kembali ke Seoul. Jungkook-ah apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Kuambil handphoneku, kurasa aku harus mencoba menelfonnya terlebih dahulu.
“Tut.. tut.. tut.. nomor yang anda hubungi tidak men-” kutekan tombol merah dihandphoneku kasar. Lalu kutekan tombol hijau lagi.
“Tut.. Tut.. Ck” akhirnya ia mengangkatnya. 
“Sayang!! aku sangat-”
“Baekhee-ya berhentilah menghubungiku aku sangat sibuk latihan. Tut.”
“merindukanmu..” ujarku dengan nada lemas meskipun aku tahu ia sudah memutuskan sambungannya. Tidak papalah, setidaknya aku sudah mendengar suaranya.
“Hahh” kuhela nafasku panjang. Sepertinya aku harus memakluminya karena ia memang sibuk sekali. Tapi,….
“HARUSKAH IA MENGABAIKAN PACARNYA SELAMA SEMINGGU PENUH??!!!! Yakk Jeon Jungkook!! Aku akan membunuhmu!!! Ahhh!!!” aku mengacak-acak rambutku frustasi. Namja itu sudah membuatku gila.
“Baekhee-ya! Tidurlah ini sudah malam.!” Suara eomma sudah berkumandang dari lantai bawah. Aku menghempaskan tubuhku dikasur dengan keras lalu kutarik selimut biruku menutupi seluruh tubuhku.
***
Hari ini adalah hari valentine. Kejadian tadi malam sudah mulai terlupakan. Semoga saja kejutan dari Jungkook cukup untuk membuatku memaafkan semua kesalahannya.
Pacaran dengan super idol tidak semudah yang dipikirkan orang lain. Tidak bisa bebas berkencan dan berhubungan. Kita tidak boleh mengungkapkan status kita, bahkan aku tidak memberitahu para sahabatku kalau aku memiliki kekasih seorang super idol. Karena, jika mereka tahu pasti akan berantakan semuanya. Apalagi mereka termasuk Army. Aku pasti akan seperti hidup dineraka jika para Army tau aku memacari salah satu idol yang sangat mereka sukai.
Aku berangkat kuliah dengan penuh semangat. Kurasa itu karena keadaan hatiku saat ini. Aku berjalan menyusuri koridor sekolahku sambil tersenyum sendiri seperti orang gila. Aku sedang berpikir kejutan apa yang akan Jungkook berikan untukku besok. Karena, selain hari valentine, besok adalah hari jadiku dengan Jungkook yang ke 4 tahun.
“Dorr..!!”
“Ahh! Ghamjagiya.!!” Suara seorang yeoja membuyarkan lamunanku dan membuatku terkejut setengah mati.
“Yak! Baekhee-ya apa yang kau lamunankan?”
“Sudahlah Baekhee, tidak usah kau pikiri nilai skripsimu itu.”
“Kau benar, Jihyo-ya. Aku saja yang mendapat 10 biasa saja.”
“Yuri-ya, apa kau pernah mempedulikan nilaimu untuk sekali saja?” Yuri tampak sedang memikirkan pertanyaan Seolhyun.
“Tidak pernah.” Jawab Yuri dengan entengnya.
“Hal itu bahkan mustahil. Yang kau pedulikan hanyalah stylemu dan namja.” Cibir Jihyo.
“Yak! apa kalian dukun? Siapa bilang aku sedang memikirkan nilaiku huh?”
“Lalu kau memikirkan apa?” Pertanyaan Jihyo membuatku bungkam. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sedang memikirkan Jungkook.
“Ah, sudahlah. Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Kajja! Kita kekantin, aku lapar sekali.” Sepertinya rengekan Seolhyun menyelamatkanku.
***
Kuaduk-aduk minumanku dengan sedotan. Tatapanku terus mengarah pada layar handphoneku yang tergeletak didepanku.
“Ponselmu akan meledak jika kau terus menatapnya seperti itu.” Tatapanku berubah arah ke Jihyo.
“Wajahmu kusut sekali. Apa yang terjadi padamu?” Tanya Seolhyun. Aku hanya terdiam dengan wajah menyedihkanku.
“Chingu-ya, kalian akan merayakan hari valentine dimana?” Ujar Yuri sambil melirikku dengan lirikan menggodanya. Seolhyun ikut tersenyum.
“Mark bilang dia akan mengajakku ke taman kota untuk melihat kembang api.”
“Yak! apa kalian tahu? Sehun bilang dia akan mengajakku ke menara Namsan dan dia akan memberiku kejutan disana.” Astaga, kali ini bahkan Jihyo ikut-ikutan. Mereka bertiga mengobrol sambil tersenyum dan sesekali melirikku. Aku tetap terdiam dengan tatapan kosong meski aku tahu mereka sedang menggodaku dengan sindirannya.
“Bukankah pesta kembang api di taman itu memang khusus diadakan untuk memperingati hari Valentine? Bagaimana kalau kita merayakan hari valentine disana bersama? Ekhem, maksudku.. tiga dari kita.” Yuri terkekeh dengan kalimatnya sendiri.
“Ahh, itu ide yang bagus. Pasti nanti malam akan sangat menyenangkan.”
“Kau benar sekali Jihyo-ya, tapi.. bagaimana dengan teman kita yang satu ini?”
“Eottoke? Tapi kan, butuh pasangan untuk merayakan hari valentine.” Mereka bertiga terkekeh bersama.
“Daebak.., kalian memang sahabat sejatiku. Baru kali ini aku tau kalau ada sahabat yang menertawai sahabatnya saat sedang kesusahan.”
“Ahh.. jadi kau kesusahan karena tidak ada namja yang bisa kau ajak merayakan hari valentine. Hahaha..” Tawa mereka meledak seketika karena ucapan Yuri.
“Makanya, buang jauh-jauh sifat dinginmu itu! Berhentilah bersikap sok cool.”
“Lakukan apa yang dikatakan Seolhyun. Mana ada namja yang mau mendekati yeoja berdarah dingin seperti dirimu.” Cibir Yuri. Aku menjawab mereka dengan ilmu kebatinan.
Itu karena aku memang tidak ingin didekati.!
“Kau bahkan mengabaikan dan menolak mentah-mentah para namja yang mendekatimu.”
Itu karena aku memiliki namja yang jauh lebih baik dari mereka.!
“Seharusnya kau menerima Youngjae saat itu. Sepertinya dia serius cinta padamu.”
Itu karena aku juga serius mencintai Jungkookku!
“Eoh, kalau saja saat itu kau mengatakan ‘Iya’ dan bukannya mengatakan ‘mustahil’. Pasti kau tidak akan merayakan Valentine sendirian nanti malam.” Ujar Yuri dan Jihyo dengan tawa mereka diakhir kata.
“Dia bahkan tidak mendekati tipeku. Aku bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya.” Mereka langsung menatapku dengan tatapan tajam mereka. Aku merasa seperti pembunuh yang sedang diinterogasi.
“Kau yakin?” Ujar Seolhyun. Aku mencoba membalas tatapan tajam mereka. ingin sekali aku berteriak pada mereka kalau pacarku adalah seorang super idol Jeon Jungkook. Tapi, apa dayaku?. Jika aku melakukannya, aku pasti akan mati saat itu juga. Pada akhirnya, aku hanya menundukan kepalaku dan membuat mereka meramaikan kantin dengan tawa terbaik mereka.
“Yayaya!! Aku memang wanita dingin dan jelek yang bodoh dalam hal cinta dan tidak bisa mendapatkan namja hebat. Kalian puas?! Berhentilah tertawa karena tawa jelek kalian mengganggu orang lain. Arra?!!” aku berdiri hendak pergi sampai aku mendengar sesuatu yang menjengkelkan dari mulut Yuri dan membuatku menghentikan langkahku.
“Yak! ige mwoya?! Lihat berita ini ‘Jungkook BTS tertangkap kencan dengan seorang yeoja tak dikenal’. Apa-apaan berita ini?” Yuri memperlihatkan layar ponselnya kepada Seolhyun dan Jihyo.
“Jinjjayo? Siapa yeoja ini?”
“Kalau saja aku tahu pasti aku akan membunuh yeoja ini.” mata Yuri dipenuhi amarah. Sedangkan aku, aku hanya diam terpaku. Aku sangat terkejut.
“Baekhee-ya, bukankah kau ingin pergi? Pergi sana.” ujar Seolhyun dengan senyumnya yang membuatku jengkel.
“Aish.. Arasseo! Aku akan pergi!” aku langsung berlari menuju tempat dimana aku bisa menenangkan pikiranku.
***
*Atap Sekolah
Aku membuka berita diponselku. Kubaca sebuah tulisan yang dapat merusak hidupku.
“Jungkook BTS tertangkap kencan dengan seorang yeoja tak dikenal?” Kulihat sebuah gambar postingan yang isinya Jungkook sedang berada didalam sebuah cafĂ© dengan seorang yeoja berambut panjang dan bertopi memakai hodie berwarna putih. Tunggu dulu…
“bukankah itu hodienya Jungkook? Kenapa yeoja ini memakainya? Apa ini? Dia bilang kemarin dia sibuk latihan, tapi kenapa dia malah berkencan dengan yeoja lain? Tidak mungkin! Ini mustahil!” lututku tiba-tiba melemas membuatku terduduk dilantai atap. Air mata yang sejak tadi kubendung mulai bercucuran layaknya air terjun. Hatiku terasa sangat sesak dan sakit. Aku menangis sekencang mungkin.
“Dia bahkan tidak menghubungiku meskipun ada berita ini? apa dia sudah tidak mempedulikanku lagi hiks..? Apa dia tidak mencintaiku lagi hiks..?” tangisku semakin menjadi-jadi.
“Hiks.. Hiks.. Yak!! Jeon Jungkook!! Haruskah aku lompat dari atap ini agar kau menelfonku!? Hiks.. hiks.. Waaaa!!” aku berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa sakit dihatiku. Tiba-tiba poselku bergetar. Aku mengangkatnya dengan semangat membara berharap telfon itu dari jungkook.
“Halo! Jungkook-ah..”             
“Ini Taehyung. Kau sudah lihat beritanya? Gwenchana?” semangatku memudar.
“Gwencanayo Oppa. Bukankankah seharusnya Jungkook yang menghawatirkanku, kenapa malah oppa yang menelfonku?”
“Jungkook sedang disibukan para wartawan. Mianhae karena mengecewakanmu.”
“Setidaknya masih ada yang peduli tentang perasaanku. Gomawo Oppa.”
“Jangan berbicara begitu. Kita tidak ada jadwal seminggu penuh ini. Tapi, Jungkook sering sekali pergi keluar. Bukankah ia menemuimu?”
Ia menemui selingkuhannya bukan menemuiku!! Ia mengabaikanku seminggu ini!Aku merengek dengan suaraku yang sedikit parau.
“ Ada apa dengan suaramu? Apa kau baru saja menangis?”
“Saat yeoja melihat namjanya kencan dengan yeoja lain, bagaimana menurut oppa?”
“Haruskah aku mengirimkanmu mawar dan coklat agar perasaanmu membaik?”
“Jungkooklah yang harus melakukannya bukan oppa.”
“Kalau begitu… apa kau tau kenapa air laut rasanya asin?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal aneh? Mollayo.”
“Karena ikannya keringatan dikejar-kejar para nelayan. Hahaha..” terdengar suara tawa keras dari sisi sana.
“Oppa, menurutmu itu lucu? Rasa humormu perlu dipertanyakan Haha.. ”
“Aku tidak peduli, yang penting aku berhasil membuatmu tertawa kan.”
“Eoh, terserah kau saja. Gomawo oppa. Kurasa aku merasa lebih baik sekarang.”
“Tetaplah tersenyum dan jangan menangis Baekhee-ya. Aku lebih suka melihat senyumanmu dan aku yakin Jungkook juga begitu. Baiklah, aku harus pergi sekarang.”
“Eoh, Bye Oppa.”
“Bye. Ah, satu lagi! Hampir saja aku lupa. Happy Valentine Day Baekhee!!”
“Happy Valentine Day too oppa.” Aku tersadar bahwa air mataku sudah surut dan terganti oleh senyuman. Oppa ini memang ahli sekali membuat orang tertawa.
***
Untung saja aku tidak ada kelas siang ini, jadi aku tidak perlu mendengar celotehan guru yang tidak bisa aku pahami karena pikiranku terus tertuju pada Jungkook. Aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan ketiga sahabatku. Lalu, seseorang menyerukan namaku.
“Lee Baekhee! Kau Lee Baekhee kan?” satpam sekolah tiba-tiba menghampiriku.
“Ne, Ahjusshi. Wae??” Kami heran. Ini pertama kalinya satpam sekolah memanggilku.
“Ada titipan dari seseorang. Seorang pengantar bunga menitipkan ini padaku.” Ahjusshi itu menyodorkan sebuket mawar dan coklat.
“Ne, Ghamsahamnida Ahjusshi.” Aku mengambil buket mawar dan coklat itu dari tangannya. Lalu, ia kembali ke posnya.
“Daebak! Jarang sekali kau mendapatkan titipan seperti ini Baekhee-ya.” Ujar Jihyo.
“Aku heran. Namja mana yang akan memberimu mawar seindah ini dan coklat semahal ini kepada yeoja sepertimu?” Seolhyun berhasil membuat wajahku seperti Hulk.
“Apa mungkin… Ahjusshi itu keliru. Seharusnya diberikan kepada Yuri bukan Baekhee.”
“Aishh.. Yak!!” Ujarku, Seolhyun dan Jihyo serempak. Aku melihat sebuah kertas berwarna merah tersisip diantara bunga mawar. Kubuka kertas itu.. lalu muncul senyuman dibibirku.
“Mwoya? Sepertinya kau punya pengagum rahasia.” Jihyo menyenggol lenganku
“Kenapa kau tidak bilang kalau dekat dengan seorang namja?” ujar Seolhyun
“Aku yakin sekali pasti kiriman ini dari seorang namja jelek dengan kacamata tebal dan behel gigi. Atau mungkin, kau disukai seorang Ahjushi pengirim bunga?” ujar Yuri dengan tawanya diakhir kata yang membuat Seolhyun & Jihyo ikut tertawa.
“Apa nanti malam kau akan merayakan valentine dengannya? haha” Seolhyun berhigh five dengan Yuri.
“V? Inisial nama siapa itu? Namja jelek itu? atau Ahjusshi pengirim bunga? hahaha” Tanya Jihyo yang disahuti oleh Yuri.
“Yang pasti antara kedua itu. Tidak mungkinkan kalau itu V BTS, itu hanya ada dalam imajinasimu.”
“Baekhee-ya, mungkin saja namja itu sengaja menggunakan huruf V agar kau mengira itu V BTS. Ternyata, namja itu juga bodoh. Hahaha..” Tawa mereka semakin menjadi-jadi.
“Hahaha!! Kalian boleh mengatakan apa saja yang kalian mau dan tertawa sepuas kalian. Yang pasti, kalian tidak akan pernah mendapatkan yang seperti ini.” kiriman bunga dan coklat dari V BTS, tentu saja mereka tidak akan pernah mendapatkannya.
“Kiriman bunga dan coklat dari namja jelek? Tentu saja seorang Yuri tidak akan pernah mendapatkannya. Hanya seorang Lee Baekhee saja yang mendapatkannya.”
“Whatever. Aku pulang dulu. Bye..” Aku berjalan menuju mobil dengan tersenyum sembari melambaikan tanganku pada ketiga sahabatku.
Aku terus menatap arah luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Wajah Jungkook terus berputar-putar dikepalaku. Aku masih tak habis pikir, kenapa ia tega memperlakukanku seperti ini? kenapa ia membohongiku? Tiba-tiba ponselku bergetar. Kubuka kunci layar handphoneku yang menampilkan sebuah pesan.
From : Kookie <3
Baekhee-ya nanti malam kita ketemuan dibelakang taman bermain rainbow. Jam 7 malam. Kau harus datang. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti.
Aku sedikit terkejut saat mengetahui kalau pesan itu dari Jungkook. Menjelaskan apa? Apa nanti ia akan memutuskanku? Sepertinya memang akan berakhir seperti ini. Jungkook-ah, apa aku bisa melepaskanmu disaat aku masih sangat mencintaimu?? Air mataku bercucuran lagi.
***
Kulirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 7. Suasana sunyi taman bermain dan dinginnya udara malam menemani langkahku yang sedikit gontai menuju belakang taman. Semangatku tidak tersisa. Aku pasrah akan apa yang akan terjadi pada 5 menit kedepan. “Hahh” aku menghela nafas panjang. Hanya tinggal beberapa langkah aku sampai ditempat jungkook menapak.  Tapi,.. aku menghentikan langkahku. Mataku membulat sempurna karena pemandangan yang ada didepanku.
“Jungkook-ah… ke-kenapa dia..” dari jarak 3 meter aku melihat jungkook sedang berpelukan dengan yeoja lain. Kuperhatikan dengan teliti wajah yeoja itu.
“Daebak! Park Sewong? Apakah aku baru saja melihat Jungkook berpelukan dengan mantannya? Jadi, yeoja yang berkencan dengannya kemarin itu Sewong.” mataku mulai bercucuran air mata lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya aku membuat air terjun dimataku dalam satu hari ini. Hari valentine yang kupikir akan terus membuatku tertawa malah membuatku terus menangis. Dengan amarah yang membara aku menghampiri mereka. kutarik tangan Jungkook menghadapku lalu..
“Plak!!!” aku menampar jungkook sekeras mungkin.
“Yak! apa yang kau lakukan jalang?!” Sewong sangat terkejut dan hendak memukulku tapi Jungkook memegang tangannya lalu mendorongnya.
“Sayang, aku bisa jelaskan ini!” ekspresi jungkook sangat kebingungan tapi aku sudah tidak peduli lagi karna akulah korban disini.
“Eoh! Arasseo! Inilah yang akan kau jelaskan kan?! Gomawo, penjelasanmu jelas sekali!!” Aku berusaha pergi tapi jungkook memegang tanganku.
“Baekhee-ya sebenarnya-”
“Sebenarnya apa?! Apa yang mau kau katakan?! Kau akan mengatakan kalau kau akan memutuskanku, iya kan?! Jawab aku!! Hiks..” aku memukul bahu jungkook membuatnya sedikit terdorong kebelakang. Jungkook seakan takut menjawab pertanyaanku.
“Eoh, k-kau benar. Aku memang a-akan me-memutuskanmu, tapi…-”
“Tapi apa?! Apapun alasanmu intinya akan tetap sama!! Kau akan tetap meninggalkanku!! Aku tidak menyangka kalau kau akan tega membohongiku!!”
“Aku tidak membohongimu, aku..-” mata jungkook mulai berkaca-kaca.
“Kau tidak menghubungiku sama sekali!! Kau bilang kau sibuk latihan!! tapi ternyata.., kau pergi kencan dengan mantanmu!! Kenapa kau jadi seberengsek itu Jeon Jungkook?!!!” nadaku bicaraku semakin meninggi.
“Bukan seperti it-” Jungkook menggenggam erat kedua tanganku.
“Apa kau pernah memikirkanku? Apakah aku setiap malam tidak bisa tidur karena menunggu telfon darimu? Apakah aku bisa menjalani hariku saat tidak mendapat kabar sama sekali darimu? Bagaimana perasaanku saat aku melihatmu berkencan dan berpelukan dengan yeoja lain? Pernahkah kau memikirkan semua itu?!!!” aku menghempaskan tangan jungkook. Namja itu hanya terdiam.
“Hiks.. Apa kau tau betapa sulitnya berpacaran denganmu? Aku harus menolak semua namja baik demi dirimu. Aku sabar saat para sahabatku mencaciku. Aku sabar selalu menunggumu ditempat sepi. Aku sabar meski kita jarang berkencan . Aku sabar meski kadang aku sampai tidak bisa bertemu denganmu selama sebulan. Aku juga sabar saat kau tidak bisa merayakan ulang tahunku bersamaku. Betapapun sulitnya, aku tetap bersabar. Kau tau kenapa? Itu karena sesulit apapun hal yang aku lalui tetap tidak bisa menandingi besarnya rasa cintaku padamu!! Tapi, kenapa seperti ini balasanmu? Aku membencimu!! Aku membencimu Jeon Jungkook!!!”
“Dengarkan dulu penjelasanku..” air mata jungkook mulai berjatuhan. Aku menutup kedua telingaku.
“Andwe!! Andwe!! Aku tidak mau mendengarnya! Jebal, apapun yang ingin kau katakan jangan katakan. Karena aku tahu, kata-katamu akan membuat hatiku semakin sakit!!” Jungkook hanya diam dengan aliran air matanya. Perlahan, aku membuka kembali telingaku. Kutatap mata jungkook lekat. Kucoba menenangkan amarahku.
“Geurae., kau ingin kita putuskan? Sekarang kita putus. Aku sudah mengakhiri hubungan ini, sekarang kau bebas.” Ujarku dengan mulut sedikit bergetar.
“Mwo? Mworago? Yak, Lee Baekhee. Kau bercandakan?!” Jungkook nampak sangat terkejut. Bukankah ia yang menginginkannya?.
“Mulai detik ini, jangan hubungi aku, lupakan aku, hapus kontakku dan jangan mempedulikanku. Sesakit apapun aku nanti, abaikan saja. Jangan mengejarku. Mulai hari ini, kita tidak saling mengenal.” Aku berlari sekencang mungkin dengan derasnya air terjun di mataku. Aku menghiraukan Jungkook yang meneriaki namaku. Jujur saja, aku sangat tidak menginginkan hal ini. aku masih sangat sangat sangat mencintai jungkook. Tapi mau bagaimana lagi, lebih baik memutuskan daripada diputuskan kan?. Semuanya sudah benar-benar berakhir. Selamat tinggal Jeon Jungkook.
***
“Hiks.. Hahaa.. Hiks.. Haaa…” aku menangis sembari melangkahkan kakiku disepanjang tangga menuju bukit. Bukit itu adalah tempat favoritku dan jungkook. Setiap kali aku memiliki masalah, aku selalu pergi kesana untuk menenangkan pikiranku. Bukit itu sudah menjadi tempat terapiku dan jungkook. Bahkan, bukit itu juga menjadi awal dari hubunganku dan jungkook. Tapi, sekarang hal itu sudah tidak berarti.
Aku berjalan sambil menunduk membuatku menjejakan air mataku disepanjang tangga. Lalu, sebuah kertas menghalangi jalanku. Aku mengambil kertas itu. Ternyata, ada sebuah gambar terlukis dengan indahnya dengan sebuah tulisan dibaliknya.
“Chakkaman.., hiks.. Kenapa foto ini familiar?”
 
“Semua berawal dari ketidak sengajaan foto ini.”
Aku melanjutkan langkahku sambil meneliti foto itu. Namun, sebuah kertas kembali menghalangi jalanku. Kuambil kertas itu, sama dengan sebelumnya. Sebuah foto dengan tulisan dibaliknya. 

“Aku kembali ke bukit itu lagi dan bertemu yeoja itu lagi.”
Kejadian terulang kembali. Kulihat ada satu lembar kertas disetiap anak tangga. Aku heran, darimana asalnya semua foto ini. Kulanjutkan langkahku sembari memunguti kertas itu.

“Kenapa aku selalu bertemu dengannya? Aneh.”


“Pertemuan kali ini berbeda. Sepertinya dia sedang sedih.”
Fotonya berubah menjadi gambaran tangan. Tapi, yang paling penting sekarang adalah… bukankah semua ini gambar diriku?

 
“Pertemananku dimulai dengan membelikan ice cream untuknya. Ice cream dapat menghilangkan kesedihan seseorang.”

“Yeoja pertama yang kutemui disekolah baruku. Dia lagi?.”

“Aku baru tahu kalau tidur dikelas adalah pemandangan yang indah.”

“Ternyata Matematika yang horror bisa menciptakan momen yang indah.”

 
“Yeoja kedua yang bisa membuatku terpaku padanya. Apa aku menyukainya?”

“Aku tidak ingin dia melihat hal yang membuatnya sedih.”

“Yeoja yang patah hati sangat berisik. Aku menggunakan cara paling efektif untuk membuatnya diam. My First kiss can made her shut.”
“Dia menyuruhku mendengarkan music disaat aku sedih karena dirinya. Cinta satu sisi memang mengerikan.”
“Untuk pertama kalinya dia menciumku. Meskipun dia sengaja untuk mencemburui seseorang. Tapi, bagaimana aku bisa berhenti menyukaimu?”
“Ku genggam tangannya. Kukira dia akan menamparku saat aku menyatakan perasaanku padanya. Tapi, takdir berkata lain. Sepertinya ia memang jodohku.”
“Berciuman ditengah hujan ternyata sangat romantis. I LOVE U LeeBi.”
LeeBi? Itu adalah panggilan kesayangan Jungkook untukku. Gambar ini adalah gambar terakhir di tangga yang artinya aku sudah berada diatas bukit. Aku sesekali tersenyum saat melihat semua gambar itu, sampai-sampai aku tidak menyadari kalau air mataku sudah sepenuhnya surut. Aku masih heran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua gambar ini bisa tersebar ditangga?.
Sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba bersinar membuatku menghalangi mataku dengan tanganku. Perlahan aku menurunkan tanganku untuk melihat apa yang terjadi. Alhasil, mataku membulat sempurna. Aku terpaku dan tidak bisa berkata-kata. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan, senang, sedih, marah, kesal, bahagia, terkejut, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana tidak? Kulihat sepasang meja kursi dan pohon besar yang dihiasi lampu berwarna-warni. Nampak kue tar berbentuk love diatas meja. Meja dan kursi itu dikelilingi oleh lilin-lilin yang juga membentuk love. Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah sesosok manusia tampan bernama Jeon Jungkook sedang berdiri dihadapanku dengan sebuket mawar besar ditangannya dan senyuman bodohnya. I’m totally blank right now!. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku tertawa? Memeluknya? Berteriak? Memukulnya? Kalau itu kalian, apa yang akan kalian lakukan?. Pada akhirnya, Air mataku mengucur kembali. Melihat itu jungkook langsung menghampiriku dan memelukku.
“LeeBi-ya, sudahlah. Jangan menangis lagi. Mianhae.” Jungkook mengelus-elus punggungku mencoba menenangkanku.
“Hiks.. Hiks..”Ia melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi pipiku.
“Bagaimana? Apa aku sudah cukup membuatmu bahagia?”
“Bahagia apanya?! Kau membuatku takut tau! Hiks.. aku pikir aku sudah kehilanganmu.” aku mendorong dada jungkook pelan.
“Mustahil. Bahkan jika kau yang memutuskanku, aku tetap tidak akan melepaskanmu.” Jungkook mengelus-elus rambutku. Aku melepaskan tangan jungkook dari kepalaku karena aku teringat akan sesuatu hal.
“Yak! Kejutan ini tetap tidak bisa menutup kemungkinan kau berpelukan dengan Sewong. Menurutku berpelukan dengan mantan tidak dibutuhkan dalam rencana ini!” Jungkook menggenggam kedua tanganku dengan erat.
“Tidak menghubungimu selama seminggu memang sengaja aku lakukan. Tapi, masalah Sewong terjadi secara tidak sengaja. Tadi, dia tiba-tiba datang padaku dengan menangis lalu memelukku. Dia bilang dia sangat mencintaiku dan dia bodoh karena dulu menghancurkan hatiku. Dia ingin memulai semua dari awal lagi.”
“Lalu apa yang kau katakan? Bagaimana kelanjutannya?” Jungkook tiba-tiba mendecih.
“Cih, kau sudah tau kelanjutannya! Lihat, pipi merahku inilah kelanjutannya!” Jungkook memperlihatkan pipinya yang merah akibat tamparanku.
“Yak! salahmu sendiri! Siapa suruh kau berani berpelukan dengan yeoja lain?! Apa kau tau? Aku ingin sekali membunuhmu saat itu, untung saja aku masih sangat…-” aku bungkam, tak kulanjutkan kalimatku. Jungkook mengeluarkan tatapan evilnya..
“Sangat apa? Sangat mencintaiku kan?” Ujar jungkook dengan senyum kelincinya.
“Eoh!! Karna aku masih sangat mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpamu! Puas?!. Seberapa besar kau menyakitiku, aku tidak akan bisa membunuhmu meskipun aku sangat menginginkannya.” Tatapan evil jungkook berubah menjadi tatapan cinta yang mendalam. Jungkook tiba-tiba berjongkok didepanku lalu mempersembahkan bunganya padaku. Hal itu membuatku terkejut, tapi jungkook malah menyunggingkan senyuman yang membuat wajahnya.. daebak! Sangat tampan.
“Berapapun banyaknya Mawar indah ini, mereka akan tetap layu. Tapi, tidak peduli seberapa banyak rasa cintaku untukmu. Itu akan tetap bertahan selamanya. Happy Valentine Day Leebi-ya. Saranghae.” Tanpa sadar, air mataku menetes lagi. Tapi, ini adalah air mata kebahagiaan. Aku mengambil mawar dari tangan jungkook. Ia berdiri lalu memelukku dengan sangat erat.
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan?” ujar jungkook sembari mendekapku.
“Nado. Nado saranghae kookie-ya! Hiks..” aku mempererat pelukanku. Setelah beberapa lama, jungkook menarik tanganku menuju kursi. Ia mendudukan dirinya didepanku lalu memotong kue yang ada diatas meja. Ia menyuapiku.
“Ehmm masitha!”
“Memang ada makanan yang tidak enak saat memasuki mulutmu?” aku memajukan bibir bawahku. Jungkook tersenyum karena wajah lucuku. Aku teringat sesuatu lagi.
“Kookie-ya, siapa yeoja yang bersamamu di cafĂ©? Atau jangan-jangan kau memang selingkuh?” Jungkook menepis kepalaku pelan.
“Yak! bisakah kau berhenti memikirkan hal buruk tentangku? Dia kakak iparku. Dia membantuku merencanakan semua ini. Gara-gara aku, dia jadi terlibat skandal yang tidak jelas. Kau tahu sendiri kan. Jika aku meminta bantuan para Hyungku, pasti kita akan benar-benar putus sekarang.”
“Yak! Apa kau tau aku hampir pingsan saat membaca berita itu?!”
“Apa kau tau aku hampir gila saat kau mengatakan ingin putus denganku?!”
“Tapi, kenapa kau tidak mengkhawatirkanku saat berita itu tersebar? Kau jahat sekali!”
“Apa menurutmu V hyung akan senantiasa mengkhawatirkanmu disaat dirinya sendiri tidak karuan karena jadwal syuting?. Aku bahkan rela mencucikan bajunya hanya untuk mendengar kabar darimu. Berhentilah bermimpi! Dia tidak mungkin mempedulikan yeoja seperti dirimu dengan cuma-cuma.” Senyumku mulai mengembang meskipun aku sedikit tersinggung. Yang penting, jungkook memang menghawatirkanku saat itu.
“Ah, jadi kau yang menyuruh V oppa. Apa kau menyuruhnya melakukan hal lain lagi?”
“Ani. Wae? Apa dia mengatakan hal-hal aneh padamu?”
“Ani. Aniya.” Ternyata bunga dan coklat itu memang asli dari V oppa. Aku tersenyum tanpa sadar.
“Aku yakin sekali, kau pasti berpikiran akan lompat dari atap saat melihat berita itu.” Jungkook menyunggingkan senyum evilnya. Heol! Bagaimana dia bisa tau?.
“Ani! Aniya! Aku tidak bodoh sampai harus bunuh diri hanya karena namja seperti dirimu.”
“Eyyy, kau sendiri yang bilang tidak bisa hidup tanpaku. Kau tidak bisa membunuhku karena sangat mencintaiku. Kau juga terus sabar karena cintamu le-” aku langsung menjejalkan sesendok kue ke mulut jungkook agar dia bisa berhenti berceloteh. Kenapa aku selalu kalah saat beradu mulut dengannya?. Jungkook memakan kue itu, tapi ia menyisakan sedikit cream dibibirnya.
“Jungkook-ah, ada cream dibibirmu.” Jungkook tiba-tiba terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Senyum evilnya muncul kembali.
“Leebi-ya, Bersihkan cream ini!”
“Wae? Apa kau seorang bayi? sadarlah, kau sudah dewasa. Kau bisa membersihkan mulutmu sendiri.”
“Shirreooo, kau yang harus memberikannya.” Jungkook merengek dengan wajah lucunya. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya.
“Dasar Bayi! Baiklah.” Aku mencoba mengusap bibir jungkook dengan tanganku tapi jungkook langsung memegang tanganku.
“Bukan dengan cara ini, tapi dengan cara ini..” Jungkook menarik tanganku. Aku membelalakan mataku saat bibir tipisnya menyentuh bibirku. Dia melumat bibirku dengan pelan dan penuh perasaan. Tanpa sadar, aku memejamkan mataku karena sensasi dari lumatan jungkook. Aku mulai ikut terbawa suasana dengan membalas lumatan demi lumatannya. Entah kenapa bibirnya bisa terasa sangat manis. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat ini. Intinya aku sangat bahagia dan sangat mencintainya. Jungkook melepaskan ciumannya lalu menatap lekat mataku. Kami saling bertatapan dengan jarak 5 centi.
“Nomu saranghae Lee Baekhee.”
“Nomu saranghae Jeon Jungkook.”  
Hari Valentineku diawali dengan tangisan kesedihan dan diakhiri oleh tawa kebahagiaan.

TBC ~

So, gimana readers? Kurang baper? Kurang sweet? Gaje? Gak papalah, namanya juga masih penulis amatiran. Sorry juga karena publishnya telat. Bagi yang pingin ngasih saran atau kritikan isi aja kolom komentar dibawah ini. Eitss! Critize will be okay, but don’t Judges!! See you in next FanFic.