Title : My Sad & Sweet Valentine (OneShoot)
Author : Mrs. Me
Cast : Jeon Jungkook (BTS) – Go Baekhee (OC)
Support Cast : Kim Taehyung (BTS), Yuri (SNSD), Seolhyun
(AOA), Jihyo (Twice).
Genre : Romance
Annyeong readers! Mrs.Me is back. Mrs.Me sengaja buat FF
ini untuk merayakan hari Valentine. Ciee, padahal Mrs.Me sendiri masih single.
Biarpun single, yang penting hati udah ada yang punya. Bukannya valentine udah
lewat? yah emang. Awalnya sih, mau dipublish tanggal 14 tapi karena kesibukan
jadwal Mrs.Me akhirnya publishnya telat. Okay, sorry for typo and, Happy
Reading..!!
14 Februari, hari yang paling bahagia bagi para
pasangan, khususnya bagi pasangan muda. 14 Februari adalah Hari Valentine
dimana semua orang saling menyatakan dan menunjukan seberapa besar rasa
cintanya kepada pasangannya. Para pasangan merayakan hari valentine dengan
memberi coklat, bunga dan lainnya. Benda-benda itulah yang melambangkan
seberapa besar cinta mereka. Sepertinya, besok kota Seoul akan diramaikan oleh
para pasangan. Termasuk, aku!.
kuberi tanda love disekeliling huruf 14 dengan
spidol merah. Aku senang sekali karena besok adalah hari valentine. Akhirnya
aku bisa bertemu dengan kekasihku setelah seminggu tidak bertemu. Yah,
kekasihku Jungkook adalah seorang member boyband internasional. Karena
kesibukannya aku jarang sekali bertemu dengannya. Pada hari valentine besok,
akan ada pesta kembang api di taman kota seoul. Meskipun aku tidak bisa
berkencan ditaman dengannya, setidaknya aku bisa melihat kembang api itu di
tempat favorit kita.
Kuamati terus handphoneku. Hal yang kutunggu-tunggu
tak kunjung datang. Kuputar-putar jari telunjukku kearah handphone sembari
merapalkan beberapa mantra.
“Berderinglah, berderinglah, berderinglah.” Aku
mencoba bersabar menunggu telpon dari kelinci kesayanganku.
“Apa dia sedang lelah dan tertidur? Tapi dia kan
sudah berjanji akan menelponku setelah konsernya di L.A. berakhir. Ini juga
sudah 2 hari sejak dia kembali ke Seoul. Jungkook-ah apa yang sedang kau
lakukan sekarang?” Kuambil handphoneku, kurasa aku harus mencoba menelfonnya
terlebih dahulu.
“Tut.. tut.. tut.. nomor yang anda hubungi tidak
men-” kutekan tombol merah dihandphoneku kasar. Lalu kutekan tombol hijau lagi.
“Tut.. Tut.. Ck” akhirnya ia mengangkatnya.
“Sayang!! aku sangat-”
“Baekhee-ya berhentilah menghubungiku aku sangat
sibuk latihan. Tut.”
“merindukanmu..” ujarku dengan nada lemas meskipun aku
tahu ia sudah memutuskan sambungannya. Tidak papalah, setidaknya aku sudah mendengar
suaranya.
“Hahh” kuhela nafasku panjang. Sepertinya aku harus
memakluminya karena ia memang sibuk sekali. Tapi,….
“HARUSKAH IA MENGABAIKAN PACARNYA SELAMA SEMINGGU
PENUH??!!!! Yakk Jeon Jungkook!! Aku akan membunuhmu!!! Ahhh!!!” aku
mengacak-acak rambutku frustasi. Namja itu sudah membuatku gila.
“Baekhee-ya! Tidurlah ini sudah malam.!” Suara
eomma sudah berkumandang dari lantai bawah. Aku menghempaskan tubuhku dikasur
dengan keras lalu kutarik selimut biruku menutupi seluruh tubuhku.
***
Hari ini adalah hari valentine. Kejadian tadi malam
sudah mulai terlupakan. Semoga saja kejutan dari Jungkook cukup untuk membuatku
memaafkan semua kesalahannya.
Pacaran dengan super idol tidak semudah yang
dipikirkan orang lain. Tidak bisa bebas berkencan dan berhubungan. Kita tidak
boleh mengungkapkan status kita, bahkan aku tidak memberitahu para sahabatku
kalau aku memiliki kekasih seorang super idol. Karena, jika mereka tahu pasti
akan berantakan semuanya. Apalagi mereka termasuk Army. Aku pasti akan seperti
hidup dineraka jika para Army tau aku memacari salah satu idol yang sangat
mereka sukai.
Aku berangkat kuliah dengan penuh semangat. Kurasa
itu karena keadaan hatiku saat ini. Aku berjalan menyusuri koridor sekolahku
sambil tersenyum sendiri seperti orang gila. Aku sedang berpikir kejutan apa
yang akan Jungkook berikan untukku besok. Karena, selain hari valentine, besok
adalah hari jadiku dengan Jungkook yang ke 4 tahun.
“Dorr..!!”
“Ahh! Ghamjagiya.!!” Suara seorang yeoja
membuyarkan lamunanku dan membuatku terkejut setengah mati.
“Yak! Baekhee-ya apa yang kau lamunankan?”
“Sudahlah Baekhee, tidak usah kau pikiri nilai
skripsimu itu.”
“Kau benar, Jihyo-ya. Aku saja yang mendapat 10
biasa saja.”
“Yuri-ya, apa kau pernah mempedulikan nilaimu untuk
sekali saja?” Yuri tampak sedang memikirkan pertanyaan Seolhyun.
“Tidak pernah.” Jawab Yuri dengan entengnya.
“Hal itu bahkan mustahil. Yang kau pedulikan
hanyalah stylemu dan namja.” Cibir Jihyo.
“Yak! apa kalian dukun? Siapa bilang aku sedang
memikirkan nilaiku huh?”
“Lalu kau memikirkan apa?” Pertanyaan Jihyo
membuatku bungkam. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sedang memikirkan
Jungkook.
“Ah, sudahlah. Aku tidak peduli apa yang kau
pikirkan. Kajja! Kita kekantin, aku lapar sekali.” Sepertinya rengekan Seolhyun
menyelamatkanku.
***
Kuaduk-aduk minumanku dengan sedotan. Tatapanku
terus mengarah pada layar handphoneku yang tergeletak didepanku.
“Ponselmu akan meledak jika kau terus menatapnya
seperti itu.” Tatapanku berubah arah ke Jihyo.
“Wajahmu kusut sekali. Apa yang terjadi padamu?”
Tanya Seolhyun. Aku hanya terdiam dengan wajah menyedihkanku.
“Chingu-ya, kalian akan merayakan hari valentine
dimana?” Ujar Yuri sambil melirikku dengan lirikan menggodanya. Seolhyun ikut
tersenyum.
“Mark bilang dia akan mengajakku ke taman kota
untuk melihat kembang api.”
“Yak! apa kalian tahu? Sehun bilang dia akan
mengajakku ke menara Namsan dan dia akan memberiku kejutan disana.” Astaga,
kali ini bahkan Jihyo ikut-ikutan. Mereka bertiga mengobrol sambil tersenyum
dan sesekali melirikku. Aku tetap terdiam dengan tatapan kosong meski aku tahu
mereka sedang menggodaku dengan sindirannya.
“Bukankah pesta kembang api di taman itu memang
khusus diadakan untuk memperingati hari Valentine? Bagaimana kalau kita
merayakan hari valentine disana bersama? Ekhem, maksudku.. tiga dari kita.”
Yuri terkekeh dengan kalimatnya sendiri.
“Ahh, itu ide yang bagus. Pasti nanti malam akan
sangat menyenangkan.”
“Kau benar sekali Jihyo-ya, tapi.. bagaimana dengan
teman kita yang satu ini?”
“Eottoke? Tapi kan, butuh pasangan untuk merayakan
hari valentine.” Mereka bertiga terkekeh bersama.
“Daebak.., kalian memang sahabat sejatiku. Baru
kali ini aku tau kalau ada sahabat yang menertawai sahabatnya saat sedang kesusahan.”
“Ahh.. jadi kau kesusahan karena tidak ada namja
yang bisa kau ajak merayakan hari valentine. Hahaha..” Tawa mereka meledak
seketika karena ucapan Yuri.
“Makanya, buang jauh-jauh sifat dinginmu itu!
Berhentilah bersikap sok cool.”
“Lakukan apa yang dikatakan Seolhyun. Mana ada
namja yang mau mendekati yeoja berdarah dingin seperti dirimu.” Cibir Yuri. Aku
menjawab mereka dengan ilmu kebatinan.
Itu
karena aku memang tidak ingin didekati.!
“Kau bahkan mengabaikan dan menolak mentah-mentah
para namja yang mendekatimu.”
Itu
karena aku memiliki namja yang jauh lebih baik dari mereka.!
“Seharusnya kau menerima Youngjae saat itu.
Sepertinya dia serius cinta padamu.”
Itu
karena aku juga serius mencintai Jungkookku!
“Eoh, kalau saja saat itu kau mengatakan ‘Iya’ dan
bukannya mengatakan ‘mustahil’. Pasti kau tidak akan merayakan Valentine
sendirian nanti malam.” Ujar Yuri dan Jihyo dengan tawa mereka diakhir kata.
“Dia bahkan tidak mendekati tipeku. Aku bisa
mendapatkan yang jauh lebih baik darinya.” Mereka langsung menatapku dengan
tatapan tajam mereka. Aku merasa seperti pembunuh yang sedang diinterogasi.
“Kau yakin?” Ujar Seolhyun. Aku mencoba membalas
tatapan tajam mereka. ingin sekali aku berteriak pada mereka kalau pacarku
adalah seorang super idol Jeon Jungkook. Tapi, apa dayaku?. Jika aku
melakukannya, aku pasti akan mati saat itu juga. Pada akhirnya, aku hanya
menundukan kepalaku dan membuat mereka meramaikan kantin dengan tawa terbaik
mereka.
“Yayaya!! Aku memang wanita dingin dan jelek yang
bodoh dalam hal cinta dan tidak bisa mendapatkan namja hebat. Kalian puas?!
Berhentilah tertawa karena tawa jelek kalian mengganggu orang lain. Arra?!!”
aku berdiri hendak pergi sampai aku mendengar sesuatu yang menjengkelkan dari
mulut Yuri dan membuatku menghentikan langkahku.
“Yak! ige mwoya?! Lihat berita ini ‘Jungkook BTS
tertangkap kencan dengan seorang yeoja tak dikenal’. Apa-apaan berita ini?”
Yuri memperlihatkan layar ponselnya kepada Seolhyun dan Jihyo.
“Jinjjayo? Siapa yeoja ini?”
“Kalau saja aku tahu pasti aku akan membunuh yeoja
ini.” mata Yuri dipenuhi amarah. Sedangkan aku, aku hanya diam terpaku. Aku
sangat terkejut.
“Baekhee-ya, bukankah kau ingin pergi? Pergi sana.”
ujar Seolhyun dengan senyumnya yang membuatku jengkel.
“Aish.. Arasseo! Aku akan pergi!” aku langsung
berlari menuju tempat dimana aku bisa menenangkan pikiranku.
***
*Atap Sekolah
Aku membuka berita diponselku. Kubaca sebuah
tulisan yang dapat merusak hidupku.
“Jungkook BTS tertangkap kencan dengan seorang
yeoja tak dikenal?” Kulihat sebuah gambar postingan yang isinya Jungkook sedang
berada didalam sebuah café dengan seorang yeoja berambut panjang dan bertopi
memakai hodie berwarna putih. Tunggu dulu…
“bukankah itu hodienya Jungkook? Kenapa yeoja ini
memakainya? Apa ini? Dia bilang kemarin dia sibuk latihan, tapi kenapa dia
malah berkencan dengan yeoja lain? Tidak mungkin! Ini mustahil!” lututku
tiba-tiba melemas membuatku terduduk dilantai atap. Air mata yang sejak tadi
kubendung mulai bercucuran layaknya air terjun. Hatiku terasa sangat sesak dan
sakit. Aku menangis sekencang mungkin.
“Dia bahkan tidak menghubungiku meskipun ada berita
ini? apa dia sudah tidak mempedulikanku lagi hiks..? Apa dia tidak mencintaiku
lagi hiks..?” tangisku semakin menjadi-jadi.
“Hiks.. Hiks.. Yak!! Jeon Jungkook!! Haruskah aku
lompat dari atap ini agar kau menelfonku!? Hiks.. hiks.. Waaaa!!” aku berteriak
sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa sakit dihatiku. Tiba-tiba poselku
bergetar. Aku mengangkatnya dengan semangat membara berharap telfon itu dari
jungkook.
“Halo! Jungkook-ah..”
“Ini
Taehyung. Kau sudah lihat beritanya? Gwenchana?”
semangatku memudar.
“Gwencanayo Oppa. Bukankankah seharusnya Jungkook
yang menghawatirkanku, kenapa malah oppa yang menelfonku?”
“Jungkook
sedang disibukan para wartawan. Mianhae karena mengecewakanmu.”
“Setidaknya masih ada yang peduli tentang
perasaanku. Gomawo Oppa.”
“Jangan
berbicara begitu. Kita tidak ada jadwal seminggu penuh ini. Tapi, Jungkook
sering sekali pergi keluar. Bukankah ia menemuimu?”
“Ia
menemui selingkuhannya bukan menemuiku!! Ia mengabaikanku seminggu ini!” Aku merengek dengan suaraku yang
sedikit parau.
“
Ada apa dengan suaramu? Apa kau baru saja menangis?”
“Saat yeoja melihat namjanya kencan dengan yeoja
lain, bagaimana menurut oppa?”
“Haruskah
aku mengirimkanmu mawar dan coklat agar perasaanmu membaik?”
“Jungkooklah yang harus melakukannya bukan oppa.”
“Kalau begitu… apa kau tau kenapa air laut rasanya
asin?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal aneh? Mollayo.”
“Karena
ikannya keringatan dikejar-kejar para nelayan. Hahaha..”
terdengar suara tawa keras dari sisi sana.
“Oppa, menurutmu itu lucu? Rasa humormu perlu
dipertanyakan Haha.. ”
“Aku
tidak peduli, yang penting aku berhasil membuatmu tertawa kan.”
“Eoh, terserah kau saja. Gomawo oppa. Kurasa aku
merasa lebih baik sekarang.”
“Tetaplah
tersenyum dan jangan menangis Baekhee-ya. Aku lebih suka melihat senyumanmu dan
aku yakin Jungkook juga begitu. Baiklah, aku harus pergi sekarang.”
“Eoh, Bye Oppa.”
“Bye.
Ah, satu lagi! Hampir saja aku lupa. Happy Valentine Day Baekhee!!”
“Happy Valentine Day too oppa.” Aku tersadar bahwa
air mataku sudah surut dan terganti oleh senyuman. Oppa ini memang ahli sekali
membuat orang tertawa.
***
Untung saja aku tidak ada kelas siang ini, jadi aku
tidak perlu mendengar celotehan guru yang tidak bisa aku pahami karena
pikiranku terus tertuju pada Jungkook. Aku berjalan menuju gerbang sekolah
dengan ketiga sahabatku. Lalu, seseorang menyerukan namaku.
“Lee Baekhee! Kau Lee Baekhee kan?” satpam sekolah
tiba-tiba menghampiriku.
“Ne, Ahjusshi. Wae??” Kami heran. Ini pertama
kalinya satpam sekolah memanggilku.
“Ada titipan dari seseorang. Seorang pengantar
bunga menitipkan ini padaku.” Ahjusshi itu menyodorkan sebuket mawar dan
coklat.
“Ne, Ghamsahamnida Ahjusshi.” Aku mengambil buket
mawar dan coklat itu dari tangannya. Lalu, ia kembali ke posnya.
“Daebak! Jarang sekali kau mendapatkan titipan
seperti ini Baekhee-ya.” Ujar Jihyo.
“Aku heran. Namja mana yang akan memberimu mawar
seindah ini dan coklat semahal ini kepada yeoja sepertimu?” Seolhyun berhasil
membuat wajahku seperti Hulk.
“Apa mungkin… Ahjusshi itu keliru. Seharusnya
diberikan kepada Yuri bukan Baekhee.”
“Aishh.. Yak!!” Ujarku, Seolhyun dan Jihyo
serempak. Aku melihat sebuah kertas berwarna merah tersisip diantara bunga
mawar. Kubuka kertas itu.. lalu muncul senyuman dibibirku.
“Mwoya? Sepertinya kau punya pengagum rahasia.”
Jihyo menyenggol lenganku
“Kenapa kau tidak bilang kalau dekat dengan seorang
namja?” ujar Seolhyun
“Aku yakin sekali pasti kiriman ini dari seorang
namja jelek dengan kacamata tebal dan behel gigi. Atau mungkin, kau disukai
seorang Ahjushi pengirim bunga?” ujar Yuri dengan tawanya diakhir kata yang
membuat Seolhyun & Jihyo ikut tertawa.
“Apa nanti malam kau akan merayakan valentine
dengannya? haha” Seolhyun berhigh five dengan Yuri.
“V? Inisial nama siapa itu? Namja jelek itu? atau
Ahjusshi pengirim bunga? hahaha” Tanya Jihyo yang disahuti oleh Yuri.
“Yang pasti antara kedua itu. Tidak mungkinkan
kalau itu V BTS, itu hanya ada dalam imajinasimu.”
“Baekhee-ya, mungkin saja namja itu sengaja
menggunakan huruf V agar kau mengira itu V BTS. Ternyata, namja itu juga bodoh.
Hahaha..” Tawa mereka semakin menjadi-jadi.
“Hahaha!! Kalian boleh mengatakan apa saja yang
kalian mau dan tertawa sepuas kalian. Yang pasti, kalian tidak akan pernah
mendapatkan yang seperti ini.” kiriman bunga dan coklat dari V BTS, tentu saja
mereka tidak akan pernah mendapatkannya.
“Kiriman bunga dan coklat dari namja jelek? Tentu
saja seorang Yuri tidak akan pernah mendapatkannya. Hanya seorang Lee Baekhee
saja yang mendapatkannya.”
“Whatever. Aku pulang dulu. Bye..” Aku berjalan
menuju mobil dengan tersenyum sembari melambaikan tanganku pada ketiga
sahabatku.
Aku terus menatap arah luar jendela mobil dengan
tatapan kosong. Wajah Jungkook terus berputar-putar dikepalaku. Aku masih tak
habis pikir, kenapa ia tega memperlakukanku seperti ini? kenapa ia
membohongiku? Tiba-tiba ponselku bergetar. Kubuka kunci layar handphoneku yang
menampilkan sebuah pesan.
From
: Kookie <3
Baekhee-ya
nanti malam kita ketemuan dibelakang taman bermain rainbow. Jam 7 malam. Kau
harus datang. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti.
Aku sedikit terkejut saat mengetahui kalau pesan
itu dari Jungkook. Menjelaskan apa? Apa nanti ia akan memutuskanku? Sepertinya
memang akan berakhir seperti ini. Jungkook-ah, apa aku bisa melepaskanmu disaat
aku masih sangat mencintaimu?? Air mataku bercucuran lagi.
***
Kulirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 7.
Suasana sunyi taman bermain dan dinginnya udara malam menemani langkahku yang
sedikit gontai menuju belakang taman. Semangatku tidak tersisa. Aku pasrah akan
apa yang akan terjadi pada 5 menit kedepan. “Hahh” aku menghela nafas panjang.
Hanya tinggal beberapa langkah aku sampai ditempat jungkook menapak. Tapi,.. aku menghentikan langkahku. Mataku
membulat sempurna karena pemandangan yang ada didepanku.
“Jungkook-ah… ke-kenapa dia..” dari jarak 3 meter aku
melihat jungkook sedang berpelukan dengan yeoja lain. Kuperhatikan dengan
teliti wajah yeoja itu.
“Daebak! Park Sewong? Apakah aku baru saja melihat
Jungkook berpelukan dengan mantannya? Jadi, yeoja yang berkencan dengannya
kemarin itu Sewong.” mataku mulai bercucuran air mata lagi. Ini sudah yang
ketiga kalinya aku membuat air terjun dimataku dalam satu hari ini. Hari
valentine yang kupikir akan terus membuatku tertawa malah membuatku terus
menangis. Dengan amarah yang membara aku menghampiri mereka. kutarik tangan
Jungkook menghadapku lalu..
“Plak!!!” aku menampar jungkook sekeras mungkin.
“Yak! apa yang kau lakukan jalang?!” Sewong sangat
terkejut dan hendak memukulku tapi Jungkook memegang tangannya lalu
mendorongnya.
“Sayang, aku bisa jelaskan ini!” ekspresi jungkook
sangat kebingungan tapi aku sudah tidak peduli lagi karna akulah korban disini.
“Eoh! Arasseo! Inilah yang akan kau jelaskan kan?!
Gomawo, penjelasanmu jelas sekali!!” Aku berusaha pergi tapi jungkook memegang
tanganku.
“Baekhee-ya sebenarnya-”
“Sebenarnya apa?! Apa yang mau kau katakan?! Kau
akan mengatakan kalau kau akan memutuskanku, iya kan?! Jawab aku!! Hiks..” aku
memukul bahu jungkook membuatnya sedikit terdorong kebelakang. Jungkook seakan
takut menjawab pertanyaanku.
“Eoh, k-kau benar. Aku memang a-akan me-memutuskanmu,
tapi…-”
“Tapi apa?! Apapun alasanmu intinya akan tetap
sama!! Kau akan tetap meninggalkanku!! Aku tidak menyangka kalau kau akan tega
membohongiku!!”
“Aku tidak membohongimu, aku..-” mata jungkook
mulai berkaca-kaca.
“Kau tidak menghubungiku sama sekali!! Kau bilang
kau sibuk latihan!! tapi ternyata.., kau pergi kencan dengan mantanmu!! Kenapa
kau jadi seberengsek itu Jeon Jungkook?!!!” nadaku bicaraku semakin meninggi.
“Bukan seperti it-” Jungkook menggenggam erat kedua
tanganku.
“Apa kau pernah memikirkanku? Apakah aku setiap
malam tidak bisa tidur karena menunggu telfon darimu? Apakah aku bisa menjalani
hariku saat tidak mendapat kabar sama sekali darimu? Bagaimana perasaanku saat
aku melihatmu berkencan dan berpelukan dengan yeoja lain? Pernahkah kau
memikirkan semua itu?!!!” aku menghempaskan tangan jungkook. Namja itu hanya
terdiam.
“Hiks.. Apa kau tau betapa sulitnya berpacaran
denganmu? Aku harus menolak semua namja baik demi dirimu. Aku sabar saat para
sahabatku mencaciku. Aku sabar selalu menunggumu ditempat sepi. Aku sabar meski
kita jarang berkencan . Aku sabar meski kadang aku sampai tidak bisa bertemu
denganmu selama sebulan. Aku juga sabar saat kau tidak bisa merayakan ulang
tahunku bersamaku. Betapapun sulitnya, aku tetap bersabar. Kau tau kenapa? Itu
karena sesulit apapun hal yang aku lalui tetap tidak bisa menandingi besarnya
rasa cintaku padamu!! Tapi, kenapa seperti ini balasanmu? Aku membencimu!! Aku
membencimu Jeon Jungkook!!!”
“Dengarkan dulu penjelasanku..” air mata jungkook
mulai berjatuhan. Aku menutup kedua telingaku.
“Andwe!! Andwe!! Aku tidak mau mendengarnya! Jebal,
apapun yang ingin kau katakan jangan katakan. Karena aku tahu, kata-katamu akan
membuat hatiku semakin sakit!!” Jungkook hanya diam dengan aliran air matanya. Perlahan,
aku membuka kembali telingaku. Kutatap mata jungkook lekat. Kucoba menenangkan
amarahku.
“Geurae., kau ingin kita putuskan? Sekarang kita
putus. Aku sudah mengakhiri hubungan ini, sekarang kau bebas.” Ujarku dengan
mulut sedikit bergetar.
“Mwo? Mworago? Yak, Lee Baekhee. Kau bercandakan?!”
Jungkook nampak sangat terkejut. Bukankah ia yang menginginkannya?.
“Mulai detik ini, jangan hubungi aku, lupakan aku,
hapus kontakku dan jangan mempedulikanku. Sesakit apapun aku nanti, abaikan
saja. Jangan mengejarku. Mulai hari ini, kita tidak saling mengenal.” Aku
berlari sekencang mungkin dengan derasnya air terjun di mataku. Aku
menghiraukan Jungkook yang meneriaki namaku. Jujur saja, aku sangat tidak
menginginkan hal ini. aku masih sangat sangat sangat mencintai jungkook. Tapi
mau bagaimana lagi, lebih baik memutuskan daripada diputuskan kan?. Semuanya
sudah benar-benar berakhir. Selamat tinggal Jeon Jungkook.
***
“Hiks.. Hahaa.. Hiks.. Haaa…” aku menangis sembari
melangkahkan kakiku disepanjang tangga menuju bukit. Bukit itu adalah tempat
favoritku dan jungkook. Setiap kali aku memiliki masalah, aku selalu pergi
kesana untuk menenangkan pikiranku. Bukit itu sudah menjadi tempat terapiku dan
jungkook. Bahkan, bukit itu juga menjadi awal dari hubunganku dan jungkook.
Tapi, sekarang hal itu sudah tidak berarti.
Aku berjalan sambil menunduk membuatku menjejakan
air mataku disepanjang tangga. Lalu, sebuah kertas menghalangi jalanku. Aku mengambil
kertas itu. Ternyata, ada sebuah gambar terlukis dengan indahnya dengan sebuah
tulisan dibaliknya.
“Chakkaman.., hiks.. Kenapa foto ini familiar?”
“Semua
berawal dari ketidak sengajaan foto ini.”
Aku melanjutkan langkahku sambil meneliti foto itu.
Namun, sebuah kertas kembali menghalangi jalanku. Kuambil kertas itu, sama
dengan sebelumnya. Sebuah foto dengan tulisan dibaliknya.
“Aku
kembali ke bukit itu lagi dan bertemu yeoja itu lagi.”
Kejadian terulang kembali. Kulihat ada satu lembar
kertas disetiap anak tangga. Aku heran, darimana asalnya semua foto ini.
Kulanjutkan langkahku sembari memunguti kertas itu.
“Kenapa
aku selalu bertemu dengannya? Aneh.”
“Pertemuan
kali ini berbeda. Sepertinya dia sedang sedih.”
Fotonya berubah menjadi gambaran tangan. Tapi, yang
paling penting sekarang adalah… bukankah semua ini gambar diriku?
“Pertemananku
dimulai dengan membelikan ice cream untuknya. Ice cream dapat menghilangkan
kesedihan seseorang.”
“Yeoja
pertama yang kutemui disekolah baruku. Dia lagi?.”
“Aku
baru tahu kalau tidur dikelas adalah pemandangan yang indah.”
“Ternyata
Matematika yang horror bisa menciptakan momen yang indah.”

“Yeoja
kedua yang bisa membuatku terpaku padanya. Apa aku menyukainya?”
“Aku
tidak ingin dia melihat hal yang membuatnya sedih.”
“Yeoja
yang patah hati sangat berisik. Aku menggunakan cara paling efektif untuk
membuatnya diam. My First kiss can made her shut.”
“Dia
menyuruhku mendengarkan music disaat aku sedih karena dirinya. Cinta satu sisi
memang mengerikan.”

“Untuk
pertama kalinya dia menciumku. Meskipun dia sengaja untuk mencemburui
seseorang. Tapi, bagaimana aku bisa berhenti menyukaimu?”

“Ku
genggam tangannya. Kukira dia akan menamparku saat aku menyatakan perasaanku
padanya. Tapi, takdir berkata lain. Sepertinya ia memang jodohku.”

“Berciuman
ditengah hujan ternyata sangat romantis. I LOVE U LeeBi.”
LeeBi? Itu adalah panggilan kesayangan Jungkook
untukku. Gambar ini adalah gambar terakhir di tangga yang artinya aku sudah
berada diatas bukit. Aku sesekali tersenyum saat melihat semua gambar itu,
sampai-sampai aku tidak menyadari kalau air mataku sudah sepenuhnya surut. Aku
masih heran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua gambar ini bisa tersebar
ditangga?.
Sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba bersinar
membuatku menghalangi mataku dengan tanganku. Perlahan aku menurunkan tanganku
untuk melihat apa yang terjadi. Alhasil, mataku membulat sempurna. Aku terpaku
dan tidak bisa berkata-kata. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan, senang,
sedih, marah, kesal, bahagia, terkejut, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Bagaimana tidak? Kulihat sepasang meja kursi dan pohon besar yang dihiasi lampu
berwarna-warni. Nampak kue tar berbentuk love diatas meja. Meja dan kursi itu
dikelilingi oleh lilin-lilin yang juga membentuk love. Dan yang paling
menyebalkan dari semuanya adalah sesosok manusia tampan bernama Jeon Jungkook
sedang berdiri dihadapanku dengan sebuket mawar besar ditangannya dan senyuman
bodohnya. I’m totally blank right now!. Aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan. Haruskah aku tertawa? Memeluknya? Berteriak? Memukulnya? Kalau itu
kalian, apa yang akan kalian lakukan?. Pada akhirnya, Air mataku mengucur
kembali. Melihat itu jungkook langsung menghampiriku dan memelukku.
“LeeBi-ya, sudahlah. Jangan menangis lagi.
Mianhae.” Jungkook mengelus-elus punggungku mencoba menenangkanku.
“Hiks.. Hiks..”Ia melepaskan pelukannya lalu
mengusap air mata yang membasahi pipiku.
“Bagaimana? Apa aku sudah cukup membuatmu bahagia?”
“Bahagia apanya?! Kau membuatku takut tau! Hiks..
aku pikir aku sudah kehilanganmu.” aku mendorong dada jungkook pelan.
“Mustahil. Bahkan jika kau yang memutuskanku, aku
tetap tidak akan melepaskanmu.” Jungkook mengelus-elus rambutku. Aku melepaskan
tangan jungkook dari kepalaku karena aku teringat akan sesuatu hal.
“Yak! Kejutan ini tetap tidak bisa menutup
kemungkinan kau berpelukan dengan Sewong. Menurutku berpelukan dengan mantan
tidak dibutuhkan dalam rencana ini!” Jungkook menggenggam kedua tanganku dengan
erat.
“Tidak menghubungimu selama seminggu memang sengaja
aku lakukan. Tapi, masalah Sewong terjadi secara tidak sengaja. Tadi, dia
tiba-tiba datang padaku dengan menangis lalu memelukku. Dia bilang dia sangat
mencintaiku dan dia bodoh karena dulu menghancurkan hatiku. Dia ingin memulai
semua dari awal lagi.”
“Lalu apa yang kau katakan? Bagaimana
kelanjutannya?” Jungkook tiba-tiba mendecih.
“Cih, kau sudah tau kelanjutannya! Lihat, pipi
merahku inilah kelanjutannya!” Jungkook memperlihatkan pipinya yang merah
akibat tamparanku.
“Yak! salahmu sendiri! Siapa suruh kau berani
berpelukan dengan yeoja lain?! Apa kau tau? Aku ingin sekali membunuhmu saat
itu, untung saja aku masih sangat…-” aku bungkam, tak kulanjutkan kalimatku.
Jungkook mengeluarkan tatapan evilnya..
“Sangat apa? Sangat mencintaiku kan?” Ujar jungkook
dengan senyum kelincinya.
“Eoh!! Karna aku masih sangat mencintaimu dan tidak
bisa hidup tanpamu! Puas?!. Seberapa besar kau menyakitiku, aku tidak akan bisa
membunuhmu meskipun aku sangat menginginkannya.” Tatapan evil jungkook berubah
menjadi tatapan cinta yang mendalam. Jungkook tiba-tiba berjongkok didepanku
lalu mempersembahkan bunganya padaku. Hal itu membuatku terkejut, tapi jungkook
malah menyunggingkan senyuman yang membuat wajahnya.. daebak! Sangat tampan.
“Berapapun banyaknya Mawar indah ini, mereka akan
tetap layu. Tapi, tidak peduli seberapa banyak rasa cintaku untukmu. Itu akan
tetap bertahan selamanya. Happy Valentine Day Leebi-ya. Saranghae.” Tanpa
sadar, air mataku menetes lagi. Tapi, ini adalah air mata kebahagiaan. Aku
mengambil mawar dari tangan jungkook. Ia berdiri lalu memelukku dengan sangat
erat.
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan?” ujar
jungkook sembari mendekapku.
“Nado. Nado saranghae kookie-ya! Hiks..” aku
mempererat pelukanku. Setelah beberapa lama, jungkook menarik tanganku menuju
kursi. Ia mendudukan dirinya didepanku lalu memotong kue yang ada diatas meja.
Ia menyuapiku.
“Ehmm masitha!”
“Memang ada makanan yang tidak enak saat memasuki
mulutmu?” aku memajukan bibir bawahku. Jungkook tersenyum karena wajah lucuku. Aku
teringat sesuatu lagi.
“Kookie-ya, siapa yeoja yang bersamamu di cafĂ©?
Atau jangan-jangan kau memang selingkuh?” Jungkook menepis kepalaku pelan.
“Yak! bisakah kau berhenti memikirkan hal buruk
tentangku? Dia kakak iparku. Dia membantuku merencanakan semua ini. Gara-gara
aku, dia jadi terlibat skandal yang tidak jelas. Kau tahu sendiri kan. Jika aku
meminta bantuan para Hyungku, pasti kita akan benar-benar putus sekarang.”
“Yak! Apa kau tau aku hampir pingsan saat membaca
berita itu?!”
“Apa kau tau aku hampir gila saat kau mengatakan
ingin putus denganku?!”
“Tapi, kenapa kau tidak mengkhawatirkanku saat
berita itu tersebar? Kau jahat sekali!”
“Apa menurutmu V hyung akan senantiasa
mengkhawatirkanmu disaat dirinya sendiri tidak karuan karena jadwal syuting?.
Aku bahkan rela mencucikan bajunya hanya untuk mendengar kabar darimu. Berhentilah
bermimpi! Dia tidak mungkin mempedulikan yeoja seperti dirimu dengan
cuma-cuma.” Senyumku mulai mengembang meskipun aku sedikit tersinggung. Yang
penting, jungkook memang menghawatirkanku saat itu.
“Ah, jadi kau yang menyuruh V oppa. Apa kau
menyuruhnya melakukan hal lain lagi?”
“Ani. Wae? Apa dia mengatakan hal-hal aneh padamu?”
“Ani. Aniya.” Ternyata bunga dan coklat itu memang
asli dari V oppa. Aku tersenyum tanpa sadar.
“Aku yakin sekali, kau pasti berpikiran akan lompat
dari atap saat melihat berita itu.” Jungkook menyunggingkan senyum evilnya.
Heol! Bagaimana dia bisa tau?.
“Ani! Aniya! Aku tidak bodoh sampai harus bunuh
diri hanya karena namja seperti dirimu.”
“Eyyy, kau sendiri yang bilang tidak bisa hidup
tanpaku. Kau tidak bisa membunuhku karena sangat mencintaiku. Kau juga terus
sabar karena cintamu le-” aku langsung menjejalkan sesendok kue ke mulut
jungkook agar dia bisa berhenti berceloteh. Kenapa aku selalu kalah saat beradu
mulut dengannya?. Jungkook memakan kue itu, tapi ia menyisakan sedikit cream
dibibirnya.
“Jungkook-ah, ada cream dibibirmu.” Jungkook
tiba-tiba terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Senyum evilnya muncul
kembali.
“Leebi-ya, Bersihkan cream ini!”
“Wae? Apa kau seorang bayi? sadarlah, kau sudah
dewasa. Kau bisa membersihkan mulutmu sendiri.”
“Shirreooo, kau yang harus memberikannya.” Jungkook
merengek dengan wajah lucunya. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya.
“Dasar Bayi! Baiklah.” Aku mencoba mengusap bibir
jungkook dengan tanganku tapi jungkook langsung memegang tanganku.
“Bukan dengan cara ini, tapi dengan cara ini..”
Jungkook menarik tanganku. Aku membelalakan mataku saat bibir tipisnya
menyentuh bibirku. Dia melumat bibirku dengan pelan dan penuh perasaan. Tanpa
sadar, aku memejamkan mataku karena sensasi dari lumatan jungkook. Aku mulai
ikut terbawa suasana dengan membalas lumatan demi lumatannya. Entah kenapa
bibirnya bisa terasa sangat manis. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat
ini. Intinya aku sangat bahagia dan sangat mencintainya. Jungkook melepaskan
ciumannya lalu menatap lekat mataku. Kami saling bertatapan dengan jarak 5
centi.
“Nomu saranghae Lee Baekhee.”
“Nomu saranghae Jeon Jungkook.”
Hari Valentineku diawali dengan tangisan kesedihan
dan diakhiri oleh tawa kebahagiaan.
TBC ~
So, gimana readers? Kurang baper? Kurang sweet?
Gaje? Gak papalah, namanya juga masih penulis amatiran. Sorry juga karena
publishnya telat. Bagi yang pingin ngasih saran atau kritikan isi aja kolom
komentar dibawah ini. Eitss! Critize will be okay, but don’t Judges!! See you
in next FanFic.
